Senin, 13 Juli 2026 - 17:35 WIB

Jakarta, VIVA – Tiga santri pondok pesantren di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi korban pembakaran temannya yang sesama santri. 

Baca Juga

Peristiwa ini mengakibatkan salah satu santri atas nama Sahril Sabirin meninggal dunia. Sementara dua korban lainnya yakni Sahid Alkudri dan Ahmad Devan Ramdan mengalami luka-luka.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dua korban bersama keluarga dan tim kuasa hukum dari Hotman Paris 911 pun mendatangi Komisi III DPR RI untuk melakukan audiensi sekaligus mencari keadilan pada Senin, 13 Juli 2026.

Baca Juga

Salah satu tim kuasa hukum, Putri Maya Rumanti menyatakan pihaknya menerima laporan terkait kasus pembakaran ini pada Juni 2026 lalu. Selain pembakaran, ketiga korban juga ternyata merupakan korban bullying oleh pelaku. 

“Dua orang pelaku, yang satu adalah atas nama R, inisial anak R, kemudian yang kedua inisialnya Y. Y ini merupakan anak pemilik Ponpes,” kata Putri dalam rapat bersama Komisi III DPR RI.

Baca Juga

Putri menuturkan, pelaku R pada Desember 2025 memaksa Sabirin untuk membeli bensin. Dia mengancam akan memukul dan membakar Sabirin jika tidak menuruti perintahnya tersebut.

“Kalau tidak mau melakukannya oleh tersangka R maka dia akan dihukum atau dipukul begitu atau mau dibakarlah gitu. Akhirnya waktu kejadian di bulan Desember diawali oleh mereka diajak anak R ini tersangka untuk membuat ketapel,” katanya.

Saat kejadian, ketiga korban diajak masuk ke sebuah ruangan. Kemudian, ketiganya dipaksa mengumpulkan kayu dan sampah.

“Dan di situ anak pelaku tersangka si R menumpahkan bensin di dalam mika. Di dalam mika dan ditanya oleh anak Al untuk apa, katanya untuk meluruskan kayu membuat ketapel,” ucap Putri.

“Lalu anak Al mengatakan jangan dibakar, jangan dihidupkan apinya nanti terbakar. Namun pelaku ini tersangka ini masih tetap menghidupkan apinya. Lalu ditumpahkanlah dan dihidupkanlah menggunakan plastik di situ di dalam mika,” sambungnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Putri menjelaskan, api kemudian menyambar sisa bensin dan merembet ke seluruh ruangan. Saat api membesar, kedua pelaku langsung lari meninggalkan tiga korban.

“Nah di sinilah yang kami melihat tidak ada upaya dari si tersangka ini untuk menyelamatkan teman-temannya. Apakah ini memang sudah direncanakan terlebih dahulu oleh pelaku atau memang tidak sengaja karena terbakar,” kata Putri.

Halaman Selanjutnya

“Kami bertanya berapa lama jeda kalian di dalam ruangan itu untuk bisa diselamatkan. Mereka katakan cukup lama pimpinan, padahal yang dua orang ini sudah keluar lebih dulu,” pungkas dia.