Minggu, 18 Oktober 2026 - 05:08 WIB

Jakarta, VIVA – Hari ulang tahun ke-75 Prabowo Subianto yang jatuh pada 17 Oktober 2026, diwarnai dengan munculnya cerita yang jarang diketahui publik tentang Sang Presiden.

Baca Juga

Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisis Kebijakan, Dirgayuza Setiawan, mengungkap sejumlah kisah di balik sikap diam hingga tangis Presiden Prabowo Subianto.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dirgayuza yang karib disapa Yuza, juga membeberkan  alasan Prabowo memilih mengabdikan sisa hidupnya untuk rakyat, bangsa, dan negara.

Baca Juga

Cerita ini memang sengaja disampaikan Yuza dalam unggahan di akun pribadinya untuk memperingati 75 tahun Prabowo.

"Hari ini, 17 Oktober 2026. Pak Prabowo berulang tahun ke-75. Selama mengenal pribadinya dari HUT beliau ke-55, saya belajar bahwa kita dapat mengenal seseorang dari caranya terdiam," kata Dirgayuza dalam unggahannya di media sosial, Sabtu (17/10/2026).

Baca Juga

"Dari wajah yang ia pandangi lama. Dari kisah yang membuat suaranya berubah. Juga dari tulisannya: Apa yang ia pikirkan dan perjuangkan. Itulah yang saya dan Agung Gumilar hadirkan dalam buku Inilah Prabowo, Apa Adanya," sambung Yuza.

Buku berjudul "Inilah Prabowo, Apa Adanya" itu ditulis Dirgayuza bersama Asisten Khusus Presiden Bidang Analisis Data Strategis Agung Gumilar Saputra.

Terbit pada 2026, buku tersebut mengisahkan pengalaman keduanya selama mendampingi Prabowo, termasuk berbagai peristiwa di balik aktivitas Presiden.

Salah satu cerita yang diungkap Dirgayuza berkaitan dengan Naila, seorang anak dari Palembang yang tinggal di gubuk di tepi sungai.

Prabowo sempat hanyt termenung setelah melihat foto Naila dalam paparan Menteri Sosial.

"Salah satu kisah yang membekas adalah tentang Naila, anak kecil dari Palembang yang tinggal di gubuk pinggir sungai. Melihat fotonya dalam paparan Menteri Sosial, Prabowo terdiam. Lalu berkata: 'Kita harus bisa buat sekolah berasrama untuk Naila'," ujar Yuza dalam unggahannya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Wajah itu terus dibawanya ke rapat. Ia ingin semua orang mengingat untuk siapa sekolah dibangun," kata Yuza dalam tulisannya.

Oleh karena itu, menurut Yuza, sebanyak 182 Sekolah Rakyat (SR) di berbagai daerah secara serentak membuka pintunya untuk gelar griya (open house) kepada masyarakat, tepat di hari ulang tahun Presiden.

Halaman Selanjutnya

Tidak hanya Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda dan Sekolah Garuda Transformasi juga menggelar agenda yang sama.