AHY Dorong Aglomerasi Polisentris untuk Genjot Ekonomi Kawasan Kunci Bersama
Moehamad Dheny Permana
| 27 Juli 2026, 13:58 WIB

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, saat menghadiri Kunci Bersama Summit 2026. (Akurat.co/Moehamad Dheny Permana)
AKURAT.CO Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menekankan pentingnya konektivitas infrastruktur dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan Kunci Bersama.
Langkah tersebut dinilai krusial untuk mengikis ketimpangan ekonomi antarwilayah. Kunci Bersama sendiri terdiri dari 10 daerah, di antaranya Kuningan, Ciamis, Kota Banjar, Indramayu, Cirebon, Cilacap, Majalengka, Kota Cirebon, Brebes, dan Pangandaran.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi di 10 kabupaten/kota kawasan Kunci Bersama saat ini masih belum merata. Beberapa daerah tercatat masih tumbuh di bawah 5 persen, sementara sebagian lainnya sudah berada di atas rerata nasional.
Baca Juga: Piala Presiden 2026 Diharapkan Jadi Hiburan dan Genjot Ekonomi Masyarakat
Untuk mengatasi persoalan tersebut, AHY menawarkan konsep pengembangan wilayah berbasis aglomerasi polisentris. Pendekatan ini diharapkan mampu menghapus ego sektoral antar-pemerintah daerah.
"Saya tadi mengedepankan sebuah paradigma pengembangan wilayah aglomerasi polisentris," ujar AHY saat menghadiri Kunci Bersama Summit 2026 di Jakarta, Senin (27/7/2026).
Dia menjelaskan, konsep aglomerasi bertujuan menghimpun daerah-daerah yang berdekatan agar saling terhubung meskipun terpisah secara administratif. Sementara pendekatan polisentris akan membagi peran tiap daerah sebagai pusat pertumbuhan baru.
Baca Juga: Menkeu Purbaya: Likuiditas Cukup, Ekonomi RI Optimis Tumbuh Lebih Cepat
"Aglomerasi artinya ya tadi kawasan-kawasan kabupaten kota coba kita himpun dan kita upayakan agar walaupun ini berbeda secara administratif tapi terhubung satu sama lain. Dan polisentris artinya tidak harus membangun satu pusat kota besar tapi masing-masing itu menjadi pusat-pusat baru," ujarnya.
Dia mencontohkan keberhasilan model integrasi kawasan tersebut di sejumlah wilayah Eropa dan China. Di negara-negara tersebut, setiap daerah dikembangkan dengan fungsi-fungsi spesifik yang saling menopang satu sama lain.
"Kami hadirkan sebuah studi kasus misalnya perbandingan dengan negara-negara di Eropa termasuk China sendiri itu ada kawasan-kawasan yang dikembangkan dengan fungsi-fungsi spesifik. Jadi kita saling menghubungkan satu sama lain, berbeda tapi saling mendukung satu sama lain," ungkapnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
M
S




