Bagikan:

JAKARTA - Penyakit jantung masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat Indonesia.

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan sekitar 260.000 orang meninggal setiap tahun akibat penyakit jantung, menjadikannya penyebab kematian terbesar kedua setelah stroke.

Besarnya angka kematian tersebut mendorong Kementerian Kesehatan mengubah pendekatan penanganan penyakit kardiovaskular.

Menurut Budi, fokus pemerintah tidak lagi hanya memperkuat layanan pengobatan, tetapi juga memperbesar upaya pencegahan agar masyarakat tidak jatuh sakit.

"Sebagai Menteri Kesehatan, saya percaya tugas utama kami adalah menjaga masyarakat tetap sehat, bukan hanya menyembuhkan orang yang sudah sakit. Mengobati jauh lebih mahal dan kualitas hidup pasien juga akan menurun," ujarnya kepada wartawan, Jumat, 31 Juli.

Budi menjelaskan, salah satu target utama pemerintah dalam lima tahun ke depan adalah meningkatkan angka harapan hidup masyarakat Indonesia dari 72 tahun menjadi 76 tahun.

Target tersebut dinilai sulit tercapai apabila angka kematian akibat penyakit jantung dan stroke tidak berhasil ditekan.

Menurutnya, penyakit kardiovaskular merupakan penyebab utama masyarakat Indonesia meninggal sebelum mencapai usia harapan hidup yang ditargetkan pemerintah.

Karena itu, Kementerian Kesehatan menempatkan pencegahan, deteksi dini, pemerataan akses layanan, peningkatan kualitas rumah sakit, hingga penguatan sumber daya manusia sebagai strategi utama dalam reformasi layanan jantung nasional.

Budi juga menegaskan bahwa pembangunan layanan kesehatan tidak boleh hanya berpusat di kota-kota besar.

Masyarakat di seluruh daerah harus memiliki kesempatan yang sama memperoleh layanan penanganan penyakit jantung secara cepat dan berkualitas.

"Kami ingin setiap warga Indonesia memiliki akses yang sama terhadap pelayanan jantung, tanpa harus selalu datang ke Jakarta atau kota besar lainnya," katanya.

Selain memperluas layanan rumah sakit, pemerintah juga terus memperkuat pemeriksaan kesehatan rutin sebagai langkah mendeteksi faktor risiko sejak dini.

Upaya tersebut diharapkan mampu menekan tingginya angka kematian akibat penyakit jantung dalam beberapa tahun mendatang.

Secara khusus, Menkes menyebut pemerintah menargetkan 136 juta skrining kesehatan pada tahun 2026.

Jumlah tersebut meningkat dari total lalu yang tercatat sebesar 70 juta orang ter-skrining.

Pemerintah juga menargetkan 280 juta orang terskrining pada 2029 mendatang.

Berdasarkan data skrining kesehatan, Kemenkes menemukan 150.000 bayi di Indonesia menderita penyakit jantung bawaan.

"Jumlahnya sangat banyak. Jika aturan praktis kita adalah 25 persen dari mereka menderita penyakit jantung bawaan yang parah, itu berarti 2.000 bayi harus segera dioperasi dengan sangat segera," jelas Budi Gunadi.

BACA JUGA:


Karena itu, Menkes bakal menggenjot pelayanan PCI (Percutaneous Coronary Intervention). Saat ini, layanan PCI baru dapat dilakukan di 43 kota.

"Antara tahun 2019 hingga sekarang, kami meningkatkan jumlahnya dari 43 menjadi 151. Tahun ini, semoga bisa mencapai 200 lebih, dan kemudian pada akhir tahun 2027 akan mencakup 514 kota," imbuhnya.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+