Nagan Raya (ANTARA) - Anggota DPR RI Komisi VII daerah pemilihan Aceh I, Drs H Teuku Zulkarnaini Ampon Bang, menyatakan keprihatinan serius terhadap kelangkaan dan tingginya harga semen di sejumlah wilayah Aceh.

“Yang menjadi pertanyaan kita sederhana, Aceh memiliki produsen semen di Lhoknga, Aceh Besar. tetapi mengapa masyarakat di sejumlah daerah justru kesulitan mendapatkan semen dengan harga yang wajar? Ini yang harus diperjelas secara kongkret dan objektif,” ujar Teuku Zulkarnaini dalam keterangan diterima ANTARA, Kamis.

Pria yang akrab disapa Ampon Bang ini menilai persoalan tersebut tidak boleh dilihat semata-mata sebagai persoalan perdagangan, melainkan sebagai persoalan strategis yang menyangkut pembangunan dan pemulihan masyarakat Aceh pascabencana.

Berdasarkan informasi yang diterima, harga semen ukuran 40 kilogram di sejumlah wilayah Aceh saat ini berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp85 ribu per sak (karung), sementara di beberapa daerah lainnya telah mencapai Rp90 ribu hingga Rp110 ribu per sak.

Kondisi tersebut dinilai semakin memberatkan masyarakat yang sedang melakukan pembangunan dan perbaikan rumah setelah bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh pada akhir 2025 lalu.

Ia mengatakan, persoalan tersebut menjadi semakin serius karena informasi yang diterima bahwa PT Solusi Bangun Andalas menunjukkan eskalasi produksi semen dan tidak mengalami penurunan, bahkan disebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Berdasarkan data yang diterimanya, produksi yang dapat dipenuhi saat ini sekitar 3.700 ton per hari atau setara 92.500 sak, sementara kebutuhan Aceh diperkirakan mencapai 4.200 ton per hari atau sekitar 105.000 sak. Artinya, terdapat indikasi defisit sekitar 500 ton atau 12.500 sak per hari.

“Kalau produksi tidak turun, maka kita harus mencari tahu di mana masalahnya. Apakah di stok, distribusi, alokasi pasokan, transportasi, jaringan distributor, atau justru pada struktur pembentukan harga. Jangan sampai masyarakat hanya menerima akibatnya, sementara akar persoalannya tidak pernah dibuka,” tegasnya.

Baca juga: Aceh minta tambahan pasokan semen ke Mendagri dan Danantara

Baca juga: Bupati Aceh Barat minta Pemerintah Aceh mengatasi kelangkaan semen

Teuku Zulkarnaini juga menyoroti disparitas harga semen antara Aceh dan Medan, Sumatera Utara.

Menurut informasi yang ia peroleh, harga sejumlah merek semen di Medan pada awal Agustus berada di kisaran Rp70 ribu hingga Rp75 ribu per sak, sedangkan di Aceh terdapat harga yang mencapai Rp80 ribu hingga Rp110 ribu per sak.

“Ini harus dijelaskan secara ekonomi. Kita bukan daerah yang sepenuhnya bergantung pada pasokan dari luar. Kita punya pabrik semen di Lhoknga. Secara logika ekonomi, keberadaan produsen lokal semestinya dapat memperpendek rantai pasok dan menekan biaya distribusi. Kalau faktanya harga di Aceh justru lebih tinggi, berarti ada persoalan dalam rantai pasok yang harus kita telusuri,” katanya.

Dalam waktu dekat kita akan dalami kapasitas produksi, stok, distribusi, alokasi pasokan antar kabupaten/kota, struktur harga, serta langkah perusahaan dalam menutup kesenjangan antara produksi dan kebutuhan semen di Aceh.

“Saya tidak ingin persoalan ini terus berlarut. Kita ingin mendapatkan data. Berapa produksinya, berapa stoknya, ke mana distribusinya, berapa harga dari pabrik sampai distributor dan pengecer, serta apa penyebab harga di Aceh bisa berbeda dengan Medan,” ujarnya.

Ia juga akan meminta penjelasan mengenai penambahan pasokan dari luar Aceh dan peningkatan jam operasional terminal pengisian semen, termasuk sejauh mana langkah tersebut efektif mengatasi kelangkaan.

Ampon Bang juga menegaskan, persoalan semen harus segera diselesaikan karena Aceh sedang berada dalam fase pemulihan pascabencana.

Menurutnya, kenaikan harga semen secara tidak terkendali akan meningkatkan biaya pembangunan, memperlambat rehabilitasi rumah masyarakat, serta berpotensi menghambat program rekonstruksi.

“Jangan sampai masyarakat yang sudah terkena bencana kemudian harus menghadapi beban kedua berupa mahal dan langkanya bahan bangunan. Mereka sedang berusaha bangkit. Pemerintah, produsen dan seluruh mata rantai distribusi harus memastikan semen tersedia dan harganya wajar,” katanya.

Ia menekankan bahwa ketersediaan semen merupakan bagian dari ketahanan pembangunan Aceh. Karena itu, penyelesaian masalah tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi, tetapi harus memastikan semen benar-benar sampai kepada masyarakat dengan distribusi yang merata dan harga yang rasional.

“Kita harus melihat persoalan ini dari hulu sampai hilir. Kalau produksinya cukup tetapi masyarakat tetap sulit mendapatkan semen, berarti ada persoalan yang harus ditemukan. Saya akan mendalami ini di lapangan dan meminta semua data dibuka secara transparan,” pungkasnya.

Baca juga: SIG perkuat produksi-distribusi jaga pasokan semen di Aceh

Baca juga: Pemprov dorong SBI optimalkan produksi semen penuhi kebutuhan Aceh

Pewarta: Teuku Dedi Iskandar
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.