Zainal Hasan

| 23 September 2026, 20:52 WIB

APPI Edukasi Soal Gegar Otak, Ini Tanda yang Harus Diwaspadai Atlet

Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI) mengangkat pentingnya pemahaman mengenai gegar otak melalui Concussion Awareness Seminar & Talk Show di Jakarta, Rabu (23/9/2026). APPI.

AKURAT.CO, Cedera kepala menjadi salah satu risiko yang perlu diperhatikan dalam aktivitas olahraga, khususnya pada cabang yang melibatkan kontak fisik, seperti sepakbola. Benturan yang dialami atlet tidak selalu langsung memperlihatkan gejala serius sehingga kondisi setelah kejadian tetap perlu dipantau.

Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI) mengangkat pentingnya pemahaman mengenai gegar otak melalui Concussion Awareness Seminar & Talk Show di Jakarta, Rabu (23/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari National Kick-Off APPI Concussion Awareness Campaign bersama Eka Hospital.

Dalam olahraga dengan kontak fisik, cedera kepala dapat terjadi akibat benturan langsung maupun gerakan kepala yang tiba-tiba. Gerakan ke arah atas, belakang, hingga gerakan berputar juga perlu diperhatikan karena dapat menyebabkan otak bergerak di dalam rongga tengkorak.

Dokter Spesialis Neurologi dr. Ferrdy Pratama Wijaya, SpN, MMRS, Dipl of Pain, menjelaskan mekanisme benturan dapat menyebabkan cedera pada bagian otak yang terkena benturan maupun sisi sebaliknya. Kondisi tersebut dikenal sebagai mekanisme coup-countercoup dan pada kasus tertentu dapat menyebabkan contusio cerebri atau memar pada jaringan otak.

Baca Juga: Piala Presiden: APPI Soroti Jadwal, Jeda Sehari Final-Semifinal Ancam Keselamatan Pemain

"Mekanisme tersebut dapat menyebabkan cedera pada bagian otak yang mengalami benturan maupun pada sisi yang berlawanan. Kondisi ini dikenal dengan mekanisme coup-countercoup dan pada kasus tertentu dapat menyebabkan contusio cerebri atau memar pada jaringan otak," ungkap dr. Ferrdy di CGV FX, Senayan, Jakarta, Rabu (23/9/26).

Karena itu, kondisi atlet setelah mengalami benturan kepala tidak cukup dinilai hanya dari kemampuannya untuk berdiri atau berbicara. Mekanisme cedera dan gejala yang muncul setelah kejadian perlu menjadi bagian dari penilaian.

Gangguan penglihatan menjadi salah satu gejala yang perlu diperhatikan. Pandangan kabur atau melihat objek menjadi dua atau double vision dapat menjadi keluhan yang membutuhkan pemeriksaan medis lebih lanjut.

Gejala lain yang dapat muncul adalah pusing dan muntah. Kejang juga termasuk tanda yang perlu diwaspadai, meski dr. Ferrdy menjelaskan bahwa kejang tidak selalu muncul secara langsung setelah cedera dan dapat berkaitan dengan kondisi atau lesi otak yang besar.

Kemungkinan terjadinya patah tulang tengkorak juga perlu diperiksa. Selain itu, perubahan kesadaran seperti kebingungan atau amnesia yang menetap setelah benturan menjadi parameter penting dalam menilai kondisi seseorang.

"Perubahan kesadaran juga menjadi salah satu parameter penting. Salah satunya adalah kondisi bingung atau amnesia yang menetap setelah benturan," ujar dr. Ferrdy.