Awas! RI Rawan Terguncang Pekan Ini: Ada Kabar Genting dari BI-The Fed
- Pasar keuangan Indonesia kompak menguat menjelang hari kemerdekaan RI ke -81 Jumat pekan lalu
- Wall Street ambruk pada perdagangan Senin
- Perkembangan perang, keputusan suku bunga BI, rilis data Neraca Pembayaran Indonesia hingga risalah FOMC akan menjadi penggerak pasar sepanjang pekan ini
Jakarta, CNBC Indonesia- Menyambut hari kemerdekaan, pasar keuangan dalam negeri kompak ditutup menguat pada perdagangan Jumat pekan lalu usai pidato Presiden RI Prabowo Subianto.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan menghadapi banyak tantangan pekan ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar keuangan hari ini dan sepekan ke depan bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat signifikan pada perdagangan Jumat (14/8/2026). IHSG melonjak 1,59% ke level 6.401 di tengah pidato Presiden RI Prabowo Subianto di Gedung Nusantara, DPR RI, Jakarta.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG ditutup di posisi 6.401,89, menguat 100,12 poin atau 1,59% dari penutupan sebelumnya di level 6.301,77.
IHSG sempat lesu pada awal perdagangan. Indeks sempat menyentuh level terendah 6.267,41, sebelum berbalik menguat dan mencapai level tertinggi sekaligus penutupan di 6.401,89.
Penguatan IHSG ditopang terutama oleh lonjakan saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang melesat 20% ke Rp14.400 per saham dan menyumbang 44,13 poin terhadap indeks.
Hampir seluruh sektor ditutup menguat dengan sektor energi memimpin kenaikan sebesar 6,80%, diikuti kesehatan dan properti, sementara utilitas menjadi satu-satunya sektor yang melemah
Beralih ke pasar valas nilai tukar rupiah menutup perdagangan terakhir pekan lalu dengan perkasa terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda berbalik menguat setelah sempat tertekan pada pembukaan.
Merujuk data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Jumat (14/8/2026), rupiah terapresiasi 0,22% ke posisi Rp17.820/US$. Penguatan tersebut menjadi kenaikan kedua secara beruntun setelah sehari sebelumnya rupiah menguat tipis 0,03%.
Secara mingguan, rupiah juga membukukan penguatan sebesar 0,36%.
Rupiah mendapat angin segar dari melemahnya dolar AS di pasar global. Tekanan terhadap greenback muncul setelah data inflasi produsen AS kembali mengurangi peluang kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed), pada September mendatang.
Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melandai ke 7,062% pada Jumat pekan lalu. Posisi ini adalah yang terendah sejak 18 Juni 2026 atau dua bulan terakhir.
Imbal hasil SBN yang melandai menandai harga SBN yang tengah naik karena banyak dibeli investor.