Bakom: Sentra Rote Ndao dukung produksi garam 5 juta ton pada 2029
Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari mengatakan pengembangan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Kabupaten Rote Ndao terus dikejar untuk meningkatkan produksi garam nasional mencapai 5 juta ton pada 2029.
"Pemerintah menargetkan pengembangan K-SIGN seluas 2.000 hektare. Untuk mencapai target tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah menyelesaikan pengembangan tahap satu seluas 616 hektare di Kabupaten Rote Ndao dan saat ini tengah melaksanakan pembangunan tahap kedua seluas 751 hektare," jelas Kepala Bakom RI Muhammad Qodari dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu.
Tidak hanya itu, jelasnya, saat ini KKP juga tengah melakukan uji coba produksi pada lahan di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT) seluas 616 hektare (ha) yang telah selesai dibangun dengan target panen perdana pada November 2026.
Secara umum pengembangan kawasan Rote Ndao sebagai lokasi akan dilakukan di area seluas 10.764 ha. Dari luas tersebut, KKP akan mengembangkan sekitar 2.000 ha melalui skema kerja sama pemanfaatan lahan milik masyarakat. Dengan investor akan mengembangkan lebih dari 8.000 ha lainnya yang diharapkan akan mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar.
Qodari mengatakan percepatan pengembangan kawasan itu dilakukan untuk menggenjot produksi garam nasional.
"Dari sisi produksi, pemerintah menargetkan peningkatan produksi garam nasional secara bertahap dari baseline sekitar 1 juta ton menjadi 2,5 juta ton pada 2026, lalu 3,5 juta ton pada 2027 dan pada 2029 mencapai 5 juta ton," tutur Qodari.
Seiring peningkatan produksi garam nasional itu, maka impor garam ditargetkan dapat turun dari 2,6 juta ton menjadi 2 juta ton pada 2026, 1 juta ton pada 2027 dan berhasil menghentikan impor pada 2029.
"Ini merupakan bagian dari upaya mewujudkan swasembada garam nasional," demikian Muhammad Qodari.
Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.