Kenaikan investasi tersebut dipicu percepatan pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) bauksit di berbagai daerah. Tren ini dinilai menunjukkan bahwa program hilirisasi pemerintah mulai berkembang lebih merata dan tidak lagi bertumpu pada industri nikel.

Salah satu proyek yang menjadi penggerak utama adalah pembangunan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase I di Mempawah, Kalimantan Barat. Proyek yang dikembangkan Grup MIND ID melalui PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) bersama PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) itu memiliki kapasitas produksi satu juta ton alumina per tahun dengan kebutuhan bahan baku sekitar 3,3 juta ton bauksit setiap tahunnya.

Baca Juga: Dies Natalis ke-62, FTUI Perkuat Inovasi Teknik untuk Dukung Hilirisasi dan Industri Berkelanjutan

Keberadaan fasilitas tersebut dinilai menjadi fondasi penting dalam memperkuat rantai pasok industri aluminium nasional, mulai dari penambangan bauksit hingga pengolahan menjadi alumina di dalam negeri.

Anggota Komisi XII DPR RI, Eddy Soeparno menilai lonjakan investasi di sektor bauksit merupakan perkembangan yang telah lama dinantikan. Menurut dia, selama ini investasi di sektor tersebut masih tertinggal dibandingkan industri nikel.

"Kami menyambut gembira capaian investasi di sektor hilirisasi bauksit melalui peningkatan tajam investasi smelter. Jika dilihat dari perkembangannya di masa lalu, kita memang menunggu lebih banyak lagi investasi di sektor smelter bauksit karena cenderung tertinggal dibandingkan investasi di sektor nikel," ujar Eddy melalui keterangan tertulis yang diterima AKURAT.CO.

Meski demikian, ia mengingatkan agar pembangunan smelter tidak berhenti pada tahap pengolahan awal. Menurutnya, pemerintah perlu mendorong investasi hingga industri hilir sehingga nilai tambah yang dihasilkan bisa lebih besar.

"Kami berharap investasi smelter bauksit juga diikuti pengembangan industri hilir agar negara dapat memaksimalkan nilai tambah dari produk hilir bauksit," katanya.

Senada, Anggota Komisi XII DPR RI, Syarif Fasha mengatakan tren kenaikan investasi tersebut perlu dijaga agar tidak hanya menjadi fenomena sementara.

Menurut dia, keberhasilan hilirisasi juga harus memberikan manfaat bagi daerah penghasil sumber daya alam.

"Tren ini jangan hanya bersifat sementara, tetapi harus konsisten dan bila perlu terus ditingkatkan."

Ia menambahkan pemerintah juga perlu memastikan daerah penghasil memperoleh haknya sesuai ketentuan, termasuk melalui mekanisme dana bagi hasil.

Sementara itu, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani mengatakan bergesernya posisi bauksit sebagai komoditas dengan investasi hilirisasi terbesar dipengaruhi meningkatnya pembangunan fasilitas pengolahan yang dilakukan investor domestik maupun asing.

"Kalau kita lihat, biasanya nikel selalu di nomor satu. Sekarang ada shifting, bauksit menjadi nomor satu karena memang ada beberapa pembangunan bauksit, baik yang dilakukan oleh investor dalam negeri maupun luar negeri," ujar Rosan.

Menurut Rosan, perubahan komposisi investasi tersebut menunjukkan hilirisasi nasional mulai berkembang ke lebih banyak komoditas. Selain menciptakan nilai tambah industri, investasi juga berkontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja.

Secara keseluruhan, realisasi investasi hilirisasi pada triwulan II 2026 mencapai Rp152,7 triliun, naik 5,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Nilai tersebut berkontribusi sekitar 29,8% terhadap total realisasi investasi nasional sebesar Rp511,8 triliun.

Baca Juga: MIND ID Gandeng LEN hingga Krakatau Steel Garap Hilirisasi Mineral Kritis

Dari sisi komoditas, bauksit menjadi penyumbang investasi hilirisasi terbesar dengan nilai Rp40,1 triliun, diikuti nikel sebesar Rp29,4 triliun, tembaga Rp16,7 triliun, besi dan baja Rp13,2 triliun, serta pasir silika Rp4 triliun. Sementara komoditas lain seperti timah, emas, perak, kobalt, mangan, batu bara, aspal Buton, dan logam tanah jarang secara kumulatif menyumbang investasi sebesar Rp4,7 triliun.

BKPM juga mencatat realisasi investasi sepanjang Januari-Juni 2026 berhasil menyerap 1.448.862 tenaga kerja, meningkat sekitar 15% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Khusus pada triwulan II 2026, investasi menyerap 742.263 tenaga kerja, atau tumbuh 5,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.