REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG BARAT -- Bayi laki-laki asal Desa Rende, Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat berinisial MRAF diduga mengalami tumor bawaan (kongenital). Bayi tersebut baru berusia 3 bulan jalan.

Kondisinya mendapat perhatian Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bandung Barat yang melakukan pemantauan langsung terhadap anak dari pasangan Fery Ferdiansyah dengan Sawitri Oktafiani itu. Bayi itu memerlukan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.

"Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat sudah mengunjungi bayi yang sejak lahir mengalami kondisi yang memerlukan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut, dengan dugaan adanya tumor bawaan," kata Kepala Dinas Kesehatan KBB, dr. Lia N Sukandar saat dikonfirmasi, Kamis (23/9/2026).

Berdasarkan informasi medis yang diterima, ungkap Lia, bayi yang lahir tanggal 1 Juli 2026 itu mengalami gangguan pernapasan, penyakit jantung bawaan (PJB), serta kelainan bawaan berupa benjolan di bagian belakang kepala yang dilaporkan berisi jaringan otak, saraf, dan cairan. Kondisi kelainan di bagian belakang kepala sudah terdeteksi sejak bayi masih dalam kandungan melalui pemeriksaan Ultrasonografi (USG) di Puskesmas. Ibunya kemudian dirujuk untuk pemeriksaan lanjutan ke dokter spesialis obstetri dan ginekologi.

"Setelah bayi lahir pada 1 Juli 2026 di RSIA Graha Medika Padalarang, kondisi bayi kembali diperiksa dan selanjutnya dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut," terang Lia.

Namun untuk diagnosis medis secara spesifik, termasuk memastikan jenis kelainan tersebut, tegas Lia, tetap harus mengacu pada hasil pemeriksaan dokter spesialis dan rumah sakit yang menangani. "Karena itu, untuk saat ini kami belum menyebut kondisi tersebut sebagai tumor (baru dugaan). Selama ini bayi sempat mendapatkan perawatan intensif dan direncanakan untuk mendapatkan rujukan lanjutan ke rumah sakit di Jakarta," ujar Lia. 

Pihak keluarga saat itu belum melanjutkan rujukan karena adanya kendala kesiapan, termasuk dari sisi finansial. Untuk informasi mengenai kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan skema pembiayaan pelayanan, pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak terkait.

Selanjutnya, Dinas Kesehatan akan melakukan pemantauan secara berkelanjutan melalui Puskesmas, bidan desa, kader, dan keluarga, serta mengoordinasikan kebutuhan pelayanan kesehatan dan rujukan lanjutan sesuai hasil pemeriksaan dan kondisi medis bayi. "Dinas Kesehatan juga akan mengidentifikasi kebutuhan dukungan, termasuk terkait akses pelayanan dan pembiayaan, agar penanganan bayi dapat berlanjut sesuai kebutuhan medis," kata Lia.