BEI Ungkap Kapitalisasi Pasar Modal RI Capai Rp11.200 Triliun, Masuk 20 Besar Global
Bagikan:
JAKARTA – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat kapitalisasi pasar modal Indonesia mencapai Rp11.200 triliun sepanjang 2026. Nilai tersebut menempatkan pasar modal Indonesia di posisi ke-20 secara global.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan capaian tersebut menunjukkan pasar modal domestik masih memiliki ketahanan di tengah berbagai tekanan dan tantangan yang terjadi sepanjang tahun.
“Terlepas dari segala tekanan dan tantangan yang kita hadapi sepanjang tahun 2026 ini, pasar kita pada saat ini masih membukukan nilai kapitalisasi pasar sebesar Rp11.200 triliun, dan ini masih menempatkan Indonesia pada urutan ke-20 secara global,” katanya dalam Konferensi Pers HUT Pasar Modal dikutip, 11 Agustus 2026.
Selain kapitalisasi pasar, aktivitas transaksi harian di pasar modal Indonesia juga tercatat cukup besar yaitu hingga saat ini, rata-rata nilai transaksi harian mencapai Rp22,3 triliun atau setara sekitar 1,2 miliar dolar AS hingga 1,3 miliar dolar AS dengan capaian tersebut, Indonesia berada di peringkat ke-18 secara global berdasarkan nilai transaksi harian.
Jeffrey menambahkan, BEI juga terus memperluas jenis instrumen yang diperdagangkan yaitu dengan peluncuran Exchange-Traded Fund (ETF) Emas pada Senin, 10 Agustus semakin memperkuat posisi BEI sebagai bursa multi-aset atau multi asset class exchange, yang tidak hanya memperdagangkan saham, tetapi juga surat berharga dan sukuk.
Dari sisi penghimpunan dana, aktivitas pencatatan saham baru masih terus berlangsung yaitu hingga saat ini, BEI telah mencatatkan tujuh perusahaan yang melakukan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO), dengan satu di antaranya masuk kategori lighthouse IPO, sehingga jumlah perusahaan tercatat di BEI telah mencapai 962 emiten.
“Tujuh pencatatan saham baru mungkin relatif rendah dibanding dengan rata-rata tahun sebelumnya, tetapi kalau kita kondisi pasar global, kondisi yang sama juga dialami oleh bursa-bursa lain, sehingga kalau kita melihat tujuh emiten baru itu masih menempatkan BEI di urutan kedua di regional ASEAN,” ucapnya.
Di tengah kondisi pasar yang masih menghadapi tekanan, jumlah investor justru terus mengalami peningkatan yaitu BEI mencatat jumlah investor pasar modal telah mencapai 30,2 juta atau bertambah sekitar 9,9 juta investor hanya dalam kurun waktu 7,5 bulan.
“Penambahan Investor 9,9 juta adalah pertumbuhan tertinggi dalam sejarah pasar modal Indonesia,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menyampaikan bahwa pasar modal Indonesia masih menghadapi sejumlah tekanan yaitu kapitalisasi pasar tercatat mengalami penurunan 29,26 persen secara year to date (ytd).
Menurut Hasan, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang fluktuatif dipengaruhi oleh berbagai sentimen eksternal maupun domestik yang terjadi secara beruntun.
“Mulai adanya ketidakpastian pengenaan kebijakan tarif dan juga terdapat ketegangan perdagangan antar negara, kemudian ada eskalasi risiko geopolitik di berbagai kawasan, khususnya di kawasan Timur Tengah yang berdampak langsung pada pola distribusi, komoditas-komoditas utama, dan terdapat juga kenaikan harga minyak dunia yang menimbulkan selanjutnya ancaman inflasi global dan di dalam negeri tercermin juga berupa tekanan terhadap nilai mata orang rupiah,” ucapnya.
Selain itu, ia menambahkan tren kenaikan suku bunga dan isu transparansi pasar turut memengaruhi perilaku investor, termasuk melalui aksi rebalancing portofolio sehingga berbagai faktor tersebut membuat pasar modal Indonesia memasuki fase konsolidasi setelah sempat mencatatkan rekor tertinggi pada awal tahun.
Meski demikian, Hasan menyebut pertumbuhan jumlah investor pasar modal masih menunjukkan perkembangan positif yaitu hingga saat ini, jumlah Single Investor Identification (SID) telah mencapai 30,27 juta atau meningkat sekitar 48,67 persen secara tahunan.
BACA JUGA:
“Jumlah emiten kita masih tumbuh baik, di angka 962 perusahaan tercatat dan ada kegiatan penghimpunan dana yang masih aktif dilakukan oleh korporasi tercatat tidak kurang 135 (perusahaan) penawaran umum dengan total nilai sudah mencapai angka Rp123,21 triliun,” jelasnya.
Sementara itu, rata-rata nilai transaksi harian pasar modal meningkat lebih dari 23 persen menjadi Rp22,26 triliun dan pada industri pengelolaan investasi, nilai aset kelolaan atau asset under management (AUM) tercatat mencapai Rp1.026 triliun.
Adapun nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana berada di kisaran Rp674 triliun dengan aktivitas subscription yang masih mencatatkan posisi positif.
Hasan menambahkan, penghimpunan dana bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui securities crowdfunding juga terus menunjukkan perkembangan yaitu hingga saat ini, total dana yang berhasil dihimpun telah melampaui Rp2 triliun.
"Untuk aktivitas pasar keuangan derivatif dan juga bursa karbon, ini juga terus menunjukkan trend yang positif, dan kita harapkan semakin memegang peran yang penting dalam mendukung pendalaman pasar keuangan di Indonesia melalui aktivitas di pasar modal," tuturnya.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+