Liputan6.com, London - Gelombang panas ekstrem yang melanda Belanda pada akhir Juni hingga awal Juli 2026 menyebabkan lonjakan angka kematian.

Dikutip dari Anadolu, Kamis (16/7/2026), Institut Nasional untuk Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Belanda (RIVM) mencatat lebih dari 900 kematian berlebih (excess mortality) selama periode 22 Juni hingga 5 Juli, yang diduga kuat berkaitan dengan suhu udara yang sangat tinggi.

Menurut laporan yang disiarkan media publik NOS, penyebab pasti setiap kematian memang belum dapat dipastikan. Namun, RIVM menyatakan sangat mungkin bahwa cuaca panas ekstrem menjadi salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap tingginya angka kematian tersebut. Sebagian besar korban diketahui berusia di atas 80 tahun.

RIVM menjelaskan bahwa kelompok lanjut usia merupakan yang paling rentan saat terjadi gelombang panas. Seiring bertambahnya usia, fungsi organ tubuh cenderung menurun, kemampuan tubuh untuk berkeringat berkurang, serta risiko mengalami dehidrasi meningkat. Kondisi tersebut membuat lansia lebih mudah mengalami gangguan kesehatan ketika suhu udara melonjak drastis.

Selain lansia, individu yang memiliki penyakit kronis seperti gangguan jantung, pembuluh darah, dan paru-paru juga menghadapi risiko lebih tinggi. Suhu panas yang ekstrem dapat memperparah gejala penyakit yang telah diderita sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya komplikasi serius.

RIVM juga menyoroti buruknya kualitas udara selama periode gelombang panas yang dinilai semakin memperbesar ancaman kesehatan, terutama bagi kelompok masyarakat yang rentan.

Lonjakan angka kematian tercatat di seluruh wilayah Belanda, dengan jumlah tertinggi terjadi di bagian selatan dan timur negara tersebut. Kedua kawasan itu mengalami suhu udara paling tinggi selama gelombang panas berlangsung.

Meskipun peningkatan angka kematian terjadi pada semua kelompok usia, kenaikan paling signifikan dialami oleh warga berusia 80 tahun ke atas.