BI Lampung jaga tingkat kenaikan harga volatile food tidak lebih dari 5 persen
BI Lampung jaga tingkat kenaikan harga volatile food tidak lebih dari 5 persen
Sabtu, 8 Agustus 2026 08:09 WIB
Ekonom Senior Bank Indonesia (BI) Perwakilan Lampung Fiskara Indawan memberikan keterangan terkait menjaga stabilitas harga volatile food di Lampung. ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi.
Melihat perkembangan pertumbuhan ekonomi Lampung di triwulan II 2026, ini menunjukkan ekonomi daerah masih kuat
Bandarlampung (ANTARA) - Bank Indonesia (BI) Perwakilan Lampung mengatakan terus menjaga tingkat kenaikan harga kelompok bahan pangan yang mudah bergejolak (volatile food) tidak lebih dari lima persen hingga akhir tahun 2026 dengan memantau tiga komoditas pangan utama.
"Melihat perkembangan pertumbuhan ekonomi Lampung di triwulan II 2026, ini menunjukkan ekonomi daerah masih kuat. Di tengah adanya ketidakpastian global serta beragam risiko ekonomi," ujar Ekonom Senior Bank Indonesia (BI) Perwakilan Lampung Fiskara Indawan di Bandarlampung, Jumat.
Ia mengatakan untuk memastikan pertumbuhan ekonomi daerah tetap terjaga, Bank Indonesia Perwakilan Lampung akan melakukan pemantauan secara berkala terhadap pergerakan bahan makanan bergejolak, khususnya tiga komoditas utama yakni beras, aneka cabai dan bawang merah.
"Kami sangat fokus memantau perkembangan volatile food, sebab perkembangan volatile food sangat berpengaruh kepada tingkat pendapatan, kemiskinan dan inflasi. Oleh karena itu tiga komoditas utama kita pantau terus pergerakannya bersama dengan tim pengendalian inflasi daerah (TPID)," katanya.
Ia mengatakan dengan berbagai upaya pengendalian harga serta memastikan ketersediaan pasokan yang dilakukan bersama pemerintah daerah dan berbagai pihak, diharapkan dapat membuat kenaikan harga volatile food tetap terjaga, tidak lebih dari lima persen di akhir tahun.
"Kami akan terus jaga perkembangan harga khususnya volatile food, agar tidak naik lebih dari batas maksimal. Dan kita patut bersyukur perkembangan harga di Juli kemarin harga volatile food menunjukkan penurunan, kita tetap jaga ini karena tidak ingin harga terlalu tinggi," ujar dia.
Ia melanjutkan langkah antisipatif juga harus dilaksanakan oleh berbagai pihak untuk menjaga inflasi bahan makanan bergejolak atau volatile food tidak meningkat, karena ada risiko rendahnya curah hujan akibat El Nino.
"Karena melihat kondisi ke depan puncak El Nino itu di akhir tahun, maka kami berharap koordinasi dengan pemerintah daerah untuk menerapkan strategi 4K yakni dengan memastikan keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi dan komunikasi efektif tetap dilaksanakan," katanya menambahkan.
Pada di Juli 2026, bila dilihat secara bulan per bulan, ia mengatakan Lampung mengalami deflasi sebesar 0,49 persen, dan deflasi tersebut didukung adanya deflasi dari sejumlah volatile food yakni komoditas bawang merah dan cabai dengan andil deflasi 0,23 persen dan 0,13 persen.
Terkoreksinya harga dua komoditas hortikultura tersebut sejalan dengan terjaganya ketersediaan pasokan di tengah berlangsungnya periode panen pada sentra produksi lokal ataupun luar daerah khususnya Brebes dan Kulon Progo.
Pewarta : Ruth Intan Sozometa Kanafi
Editor:
Agus Wira Sukarta
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.