Bank Indonesia (BI) menargetkan Bank Kliring Renminbi mulai beroperasi paling lambat pada kuartal IV 2026. Kebijakan ini ditempuh untuk memperdalam pasar uang dan pasar valuta asing (valas), sekaligus memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.

Deputi Gubernur BI Thomas A.M. Djiwandono mengatakan bank pertama yang akan menjalankan fungsi tersebut adalah Bank of China. Selain itu, BI juga mendorong bank nasional untuk menjadi Bank Kliring Renminbi. Saat ini, salah satu bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) masih menjalani proses administrasi untuk seleksi Bank Kliring Renminbi.

“Secara operasional akan paling lambat di kuartal keempat tahun ini. BI sudah memastikan kliring bank yang pertama adalah Bank of China, tapi kami di Bank Indonesia mendorong suatu bank nasional dan memang ini bank Himbara saat ini sedang melalui proses administrasi,” ujar Thomas dalam konferensi pers, Rabu (20/8).

Thomas juga mengatakan keberadaan Bank Kliring Renminbi menjadi bagian dari kebijakan pendalaman pasar uang dan pasar valas. Fasilitas tersebut juga diharapkan dapat memastikan ketersediaan likuiditas renminbi (RMB) di pasar domestik dan mendorong transaksi langsung rupiah-RMB.

“Fungsi Renminbi Kliring Bank intinya ini adalah suatu kebijakan untuk pendalaman pasar uang dan pasar valas. Kebijakan ini juga untuk mendorong pendalaman tersebut, tapi kebijakan ini juga untuk mendukung stabilitas nilai tukar,” ujar Thomas.

Menurut Thomas, kebutuhan renminbi di pasar domestik saat ini sudah cukup besar. Berdasarkan data BI hingga Juli 2026, permintaan RMB di pasar domestik telah mencapai setara US$ 38,9 miliar atau Rp 691,46 triliun (kurs Rp 17.775 per US$).

Angka tersebut disebut telah mendekati proyeksi tahunan BI. Thomas mengatakan secara internal BI memperkirakan kebutuhan renminbi dalam setahun berada di sekitar US$ 40 miliar atau Rp 711 triliun.

“Per Juli saja sudah hampir 100%, kita masih ada sekitar lima bulan lagi,” katanya.

Dengan tingginya permintaan tersebut, Thomas menilai keberadaan bank kliring renminbi diperlukan untuk memastikan ketersediaan likuiditas RMB sekaligus meningkatkan transaksi antara rupiah dan renminbi di pasar domestik.

Dalam kesempatan yang sama Pjs Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan keberadaan Renminbi Kliring Bank juga diharapkan dapat mengurangi kebutuhan pelaku usaha untuk menggunakan dolar AS sebagai mata uang perantara ketika melakukan transaksi renminbi.

Selama ini, pelaku transaksi yang membutuhkan RMB harus membeli dolar AS terlebih dahulu, kemudian menukarkannya kembali menjadi renminbi. Dalam sejumlah transaksi, penukaran bahkan dilakukan melalui pasar offshore di luar negeri.

“Mereka harus beli dolar dulu kemudian dolarnya ditukar lagi dengan RMB dan bahkan kadang ditukarnya di pasar offshore di luar negeri,” ujar Destry.

Menurut dia, mekanisme tersebut dapat menambah permintaan terhadap dolar AS di pasar domestik. Dengan memperbesar pasokan RMB secara langsung di dalam negeri, pelaku pasar dapat melakukan transaksi rupiah-RMB tanpa harus melewati dolar AS.

“Nah, ini kita mau potong mekanisme seperti itu dengan menambah suplai RMB di domestik sehingga mereka tidak perlu beli dolar dulu tapi mereka langsung transaksi RMB,” katanya.

Destry menilai mekanisme tersebut pada akhirnya dapat membantu mengurangi tekanan terhadap permintaan dolar AS sekaligus mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.

“Ini juga akhirnya akan mengurangi tekanan juga terhadap permintaan dolar ke depannya,” ujarnya.

BI Siapkan Instrumen Hedging Lewat Bank Mitra

Selain Renminbi Kliring Bank, Thomas mengatakan BI juga menyiapkan kebijakan lain untuk memperdalam pasar uang dan pasar valas melalui transaksi lindung nilai atau hedging melalui bank mitra. Skema tersebut disebut VASTRA atau transaksi lindung nilai pasar valas melalui bank mitra.

Thomas mengatakan VASTRA merupakan instrumen lindung nilai yang memungkinkan investor global melakukan transaksi lindung nilai melalui bank di luar negeri yang terhubung secara langsung dengan bank mitra di pasar domestik.

“VASTRA ini adalah instrumen hedging di mana kami membuka jalur untuk investor global dapat melakukan transaksi hedging dengan mudah melalui bank di luar negeri yang terhubung langsung dengan bank mitra di pasar domestik,” jelasnya.

Pada tahap awal, transaksi hedging melalui VASTRA akan didukung oleh investasi portofolio dalam rupiah. Instrumen yang dapat digunakan antara lain Surat Perbendaharaan Negara (SPN), SRBI, dan SUBBI.

Thomas mengatakan cakupan instrumen tersebut akan terus diperluas ke depannya. Skema VASTRA diharapkan dapat mengakomodasi kebutuhan lindung nilai investor global, termasuk menghadapi perbedaan zona waktu dan keterbatasan akses langsung ke pasar domestik.

Melalui skema tersebut, investor juga dapat terhubung dengan instrumen lindung nilai yang disediakan BI, antara lain Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan swap Bank Indonesia.