Bikin Salah Paham, Ini 4 Kuliner Indonesia dengan Nama Nyentrik
Jakarta -
Indonesia tidak hanya dikenal memiliki kekayaan kuliner dengan cita rasa yang beragam, tetapi juga nama-nama makanan dan minuman yang tak biasa. Di sejumlah daerah, kuliner tradisional justru memiliki nama yang nyentrik, hingga dapat membuat orang salah paham saat pertama kali mendengarnya.
Nama nyentrik tersebut tidak selalu menggambarkan bentuk maupun rasa makanannya. Sebagian di antaranya memiliki cerita dan latar belakang yang berkaitan dengan kebiasaan masyarakat setempat.
Bagi yang suka memanjakan lidah sekaligus ingin mencari pengalaman, makanan dengan nama nyentrik ini bisa masuk ke dalam daftar yang wajib dicoba. Berikut beberapa di antaranya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Bajingan
Bajingan bukanlah sebuah umpatan, melainkan makanan tradisional dari Yogyakarta dengan bahan dasar singkong atau ketela pohon dengan cita rasa manis. Bajingan dibuat dari potongan ketela yang direbus hingga setengah matang.
Setelah itu, ketela dimasak bersama gula merah dan daun pandan hingga kuahnya mengental serta mengeluarkan aroma harum. Begitu matang dan didinginkan, potongan ketela yang dibalut cairan manis kental itulah yang disebut bajingan. Cita rasa gurih-manis dan aromanya yang wangi membuat camilan ini jadi favorit banyak orang Jogja.
2. Soto Sampah
Namanya mungkin terdengar kurang menggugah selera, tetapi soto sampah merupakan salah satu kuliner yang cukup dikenal di Yogyakarta. Nama tersebut merujuk pada tampilan isi soto yang terlihat acak-acakan dan penuh dengan berbagai bahan.
Dalam satu porsinya, terdapat bihun, tauge, kol, daging, hingga gajih sapi yang disiram kuah soto gurih. Harganya pun relatif terjangkau dan biasanya disajikan bersama gorengan sebagai pelengkap.
Hidangan ini pada awalnya dikenal sebagai soto simak atau soto becak karena banyak pelanggan yang berasal dari kalangan tukang becak. Pada 2009, hidangan tersebut kemudian populer dengan nama soto sampah.
3. Memek
Kuliner memek ini memang kerap dikonotasikan dengan alat kelamin wanita atau sesuatu yang bermakna negatif. Namun, memek merupakan makanan tradisional khas Simeulue, Aceh.
Kuliner ini dibuat dari beras ketan yang disangrai, pisang matang yang ditumbuk, serta santan kelapa. Perpaduan bahan tersebut menghasilkan cita rasa manis dan gurih dengan tekstur yang khas.
Memek juga memiliki cerita dan filosofi yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Simeulue pada masa lalu. Beras ketan sangrai dahulu dijadikan bekal saat melakukan perjalanan jauh karena lebih tahan lama.
Ketika menemukan pisang di perjalanan, beras tersebut dicampur dengan pisang dan santan sehingga menjadi makanan yang mengenyangkan. Kuliner ini kemudian menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Simeulue dan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2019.
4. Pocong
Tidak hanya makanan, nama nyentrik juga ditemukan pada minuman tradisional. Salah satunya adalah es pocong, minuman segar yang menggunakan bubur beras sebagai salah satu bahan utamanya.
Minuman khas Depok ini disajikan bersama irisan pisang dan es batu yang disiram sirup coco pandan. Perpaduan tersebut menghasilkan rasa manis dan segar.
Dengan tampilannya yang menarik serta cita rasa yang menyegarkan, es pocong cocok disantap sebagai pelepas dahaga.
Beragam kuliner tersebut menunjukkan bahwa kekayaan makanan Indonesia tidak hanya terletak pada bahan dan cita rasanya, tetapi juga pada nama serta cerita yang menyertainya. Nama yang terdengar nyentrik justru menjadi daya tarik tersendiri dan membuat orang semakin penasaran untuk mencicipinya.
(prf/ega)