Samarinda (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) bersama PLN Wilayah Kalimantan Timur menguatkan sinergi melindungi aset vital ketenagalistrikan dari bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) guna memastikan aliran listrik kepada masyarakat terjaga. 

"Penguatan koordinasi ini bertujuan melindungi aset vital ketenagalistrikan sekaligus pencegahan kerusakan ekosistem di wilayah rawan karhutla," kata Kepala BPBD Kaltim Buyung Dodi Gunawan di Samarinda, Sabtu.

Menurut dia, kolaborasi lintas sektor tersebut menjadi komitmen bahwa keselamatan lingkungan dan kelancaran suplai energi merupakan tanggung jawab bersama.

BPBD Kaltim dan PLN memperkuat empat poin mitigasi. Pertama, melakukan peningkatan kesiapsiagaan melalui rumusan langkah-langkah mitigasi cepat guna mengantisipasi potensi kebakaran, khususnya di sekitar infrastruktur transmisi dan distribusi listrik.

Kedua, kedua instansi mengoptimalkan pemantauan titik panas (hotspot) berbasis satelit secara real-time. Pemantauan ini dilakukan dengan memanfaatkan teknologi mutakhir, seperti platform LAPAN Fire Hotspot, aplikasi SIPONGI milik Kementerian Kehutanan, serta sistem citra satelit lainnya.

Ketiga, BPBD dan PLN bersama-sama untuk melakukan percepatan respons lapangan. Langkah taktis tersebut dilakukan dengan menyelaraskan alur komunikasi tim darurat agar penanganan karhutla dapat dilakukan sesegera mungkin sebelum api membesar dan meluas.

Keempat, sinergi itu difokuskan pada pengamanan pasokan listrik publik untuk memastikan kontinuitas dan keandalan aliran listrik bagi seluruh masyarakat di Kalimantan Timur tetap terjaga, meskipun daerah tersebut tengah memasuki musim rawan kebakaran.

"Sebagai langkah preventif di tingkat tapak, kami turut mengimbau masyarakat untuk berpartisipasi aktif melaporkan setiap indikasi titik api di lingkungan sekitar demi mencegah terjadinya bencana yang lebih luas," kata Buyung.

Pewarta: Ahmad Rifandi
Editor : Rahmad

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.