BPDP: Masa Depan Sawit Bergantung pada Produktivitas, Bukan Tambah Lahan
AKURAT.CO Industri kelapa sawit Indonesia dinilai memasuki fase baru. Jika selama beberapa dekade pertumbuhan industri ditopang oleh ekspansi lahan, kini peningkatan produktivitas disebut menjadi faktor utama yang akan menentukan daya saing sektor tersebut di masa depan.
Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Eddy Abdurrachman mengatakan, keberhasilan industri sawit tidak lagi diukur dari seberapa luas areal perkebunan yang dimiliki Indonesia, melainkan dari kemampuan meningkatkan hasil panen melalui inovasi dan teknologi.
"Ke depan, keberhasilan industri sawit Indonesia tidak lagi ditentukan oleh seberapa luas lahan yang kita miliki, melainkan kemampuan kita untuk meningkatkan produktivitas," kata Eddy saat membuka Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2026 di Jakarta, Senin (20/7/2026).
Baca Juga: Kelapa Sawit Jadi Kunci Ketahanan Pangan dan Hilirisasi Bernilai Tambah
Menurut BPDP, perubahan paradigma tersebut menjadi penting mengingat sekitar 41% luas perkebunan sawit nasional dikelola oleh pekebun rakyat. Dengan komposisi tersebut, peningkatan produktivitas dinilai akan berdampak langsung terhadap kesejahteraan jutaan petani.
BPDP mencatat industri sawit saat ini menjadi sumber penghidupan bagi lebih dari 16 juta masyarakat Indonesia yang terlibat di sepanjang rantai pasok, mulai dari sektor budidaya hingga industri pengolahan.
Untuk meningkatkan produktivitas, BPDP mendorong penerapan berbagai inovasi di tingkat perkebunan rakyat. Langkah tersebut meliputi penggunaan benih unggul, penerapan teknologi budidaya modern, digital farming, precision agriculture, pemupukan yang lebih efisien, hingga pengendalian hama yang ramah lingkungan.
Pendekatan tersebut dinilai lebih berkelanjutan dibanding memperluas areal tanam, sekaligus sejalan dengan upaya meningkatkan efisiensi produksi dan menjaga daya saing industri sawit nasional di tengah tuntutan keberlanjutan global.
Selain memperkuat produktivitas, BPDP menilai hasil riset perlu lebih cepat diterapkan di lapangan agar mampu memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi petani maupun industri.
Baca Juga: BPDP Perkuat Ekspansi Sawit Indonesia ke Rusia dan Eurasia Lewat Kerja Sama Strategis
Melalui penyelenggaraan PERISAI 2026, BPDP menyatakan ingin memperkuat kolaborasi antara peneliti, pelaku usaha, dan pekebun agar inovasi yang dihasilkan tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat diimplementasikan dalam praktik budidaya.