Bandarlampung (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mencatat inflasi tahunan di Provinsi Lampung pada Juli 2026 mencapai 1,76 persen dengan emas perhiasan menjadi komoditas penyumbang utama inflasi tahunan dengan andil inflasi 0,39 persen.

"Inflasi tahunan Lampung di Juli 2026 sebesar 1,76 persen ini lebih rendah, jika dibandingkan bulan yang sama di tahun 2025 sebesar 2,63 persen. Dan lebih rendah juga bila dibandingkan bulan sebelumnya di tahun 2026 yang inflasinya sebesar 2,46 persen," ujar Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Lampung Hermawan Prasetyo berdasarkan keterangannya secara daring di Bandarlampung, Senin.

Ia mengatakan untuk Indeks Harga Konsumen (IHK) Lampung di Juli 2026 sebesar 111,90.

"Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Mesuji sebesar 2,81 persen, dengan IHK sebesar 116,89 dan terendah terjadi Kabupaten Lampung Timur sebesar 1,45 persen dengan IHK sebesar 114,36," katanya.

Dia menjelaskan inflasi tahunan terjadi karena adanya kenaikan harga dari sebagian besar kelompok pengeluaran seperti kelompok makanan, minuman dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 2,98 persen, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 9,94 persen yang menjadi penyumbang utama inflasi. Kemudian kelompok pakaian dan alas kaki 1,88 persen, kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga 2,00 persen.

Kemudian kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 2,13 persen, kelompok kesehatan 2,85 persen, kelompok transportasi 5,21 persen, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 1,77 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran 1,61 persen.

"Komoditas yang dominan memberikan andil atau sumbangan inflasi tahunan pada Juli 2026 meliputi emas perhiasan sebesar 0,39 persen, bensin 0,30 persen, beras 0,19 persen, minyak goreng 0,18 persen, dan daging ayam ras 0,14 persen," ucap dia.

Sedangkan bila dilihat secara per bulan, Lampung mengalami deflasi sebesar 0,49 persen pada Juli 2026. Dan inflasi tahun kalender yakni di Juli 2026 terhadap Desember 2025 tercatat sebesar 1,92 persen.

"Bila dirinci menurut kelompok pengeluaran, deflasi terdalam secara bulanan terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,73 persen, yang sekaligus memberikan andil deflasi terbesar terhadap deflasi umum yaitu 0,59 persen," katanya.

Di sisi lain, beberapa kelompok masih mengalami inflasi, antara lain transportasi sebesar 0,54 persen dengan andil 0,06 persen, informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,43 persen dengan andil 0,03 persen, serta perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah rangga sebesar 0,39 persen dengan andil 0,02 persen.

Lalu lima komoditas utama yang memberikan andil inflasi secara bulanan pada Juli 2026 adalah bensin sebesar 0,09 persen, beras 0,07 persen, telepon seluler 0,02 persen, daging sapi 0,01 persen, dan nugget 0,01 persen.

Sebaliknya, komoditas yang menjadi penyumbang utama deflasi adalah bawang merah dengan andil 0,23 persen, diikuti cabai merah 0,13 persen, daging ayam ras 0,07 persen, telur ayam ras 0,07 persen dan tomat 0,05 persen.

Pewarta : Ruth Intan Sozometa Kanafi
Editor: Agus Wira Sukarta
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.