BPS NTT: Inflasi September 2026 sebesar 2,67 persen didorong kenaikan harga emas
BPS NTT: Inflasi September 2026 sebesar 2,67 persen didorong kenaikan harga emas
Kamis, 1 Oktober 2026 20:19 WIB
Kepala BPS Provinsi NTT Matamira B. Kale di Kupang (ANTARA/Yoseph Boli Bataona)
Kupang, NTT (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatat inflasi tahunan (year-on-year/yoy) September 2026 sebesar 2,67 persen yang terutama didorong kenaikan harga emas perhiasan.
Kepala BPS Provinsi NTT Matamira B Kale di Kupang, Kamis, mengatakan inflasi tahunan September 2026 terjadi karena kenaikan harga pada 10 dari 11 kelompok pengeluaran dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,35.
"Komoditas emas perhiasan memberikan andil tertinggi sebesar 0,64 persen. Sedangkan komoditas pelumas atau oli mesin memberikan andil inflasi terbesar kedua yaitu 0,2 persen. Komoditas lainnya yang mendorong inflasi tahunan adalah angkutan udara, bahan bakar rumah tangga, dan beberapa komoditas ikan," katanya.
Ia mengatakan inflasi tahunan September 2026 meningkat dibandingkan Agustus 2026 yang tercatat sebesar 2,59 persen.
Inflasi tertinggi terjadi di Waingapu sebesar 3,58 persen dengan IHK 110,87, sedangkan inflasi terendah terjadi di Kabupaten Timor Tengah Selatan sebesar 1,04 persen dengan IHK 108,48.
Dia menjelaskan kenaikan harga pada 10 kelompok pengeluaran tersebut meliputi kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,82 persen; pakaian dan alas kaki 2,80 persen; perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 1,84 persen; serta perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 1,34 persen.
Selain itu, kelompok kesehatan mengalami inflasi 2,01 persen, transportasi 4,03 persen, informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 2,50 persen, rekreasi, olahraga dan budaya 0,65 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 2,45 persen, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya 12,03 persen.
Sementara itu, kelompok pendidikan mengalami penurunan indeks harga sebesar 3,25 persen pada September 2026.
Lebih lanjut, Provinsi NTT mengalami deflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) sebesar 0,35 persen pada September 2026, setelah pada Agustus 2026 juga mengalami deflasi sebesar 0,40 persen. Secara tahun kalender (year-to-date/y-to-d), inflasi tercatat sebesar 1,29 persen.
"Deflasi bulanan September 2026 disebabkan oleh penurunan empat dari 11 kelompok pengeluaran. Penyebab dominan deflasi adalah turunnya indeks harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,04 persen dengan andil minus 0,38 persen," ujar Matamira.
Ia menjelaskan komoditas yang paling besar mendorong deflasi bulanan yakni tomat dengan andil minus 0,15 persen, cabai rawit minus 0,13 persen, ikan tongkol minus 0,09 persen, sawi putih minus 0,06 persen, dan bawang merah minus 0,04 persen.
"Penurunan harga bawang merah, tomat, dan cabai rawit disebabkan oleh pasokan di pasar yang cukup banyak sejak bulan Agustus karena masih dalam periode panen. Demikian juga untuk komoditas ikan tongkol dan sawi putih," katanya.
Menurut dia, komoditas yang menghambat deflasi bulanan antara lain ikan kembung dengan andil 0,05 persen, daging ayam ras 0,03 persen, bunga pepaya 0,02 persen, semen 0,02 persen, dan pelumas atau oli mesin 0,02 persen.
Adapun deflasi bulanan terjadi di tiga wilayah cakupan IHK, sementara dua wilayah lainnya mengalami inflasi. Deflasi terdalam terjadi di Waingapu sebesar 1,75 persen, sedangkan inflasi bulanan tertinggi terjadi di Kota Kupang sebesar 0,13 persen.
Matamira menambahkan kenaikan harga sejumlah komoditas ikan, daging ayam ras, bunga pepaya, semen, dan keramik menjadi komoditas yang mendorong inflasi bulanan di sejumlah wilayah.
Sementara itu, penurunan harga cabai, bawang merah, tomat, beberapa komoditas sayuran, dan angkutan udara menghambat inflasi.
Pewarta : Yoseph Boli Bataona
Editor:
Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.