Brida NTB menggelar sayembara riset peneliti muda 2026
Lombok Barat, NTB (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Nusa Tenggara Barat (NTB) resmi memulai sayembara riset dan inovasi daerah bagi peneliti muda 2026.
Kepala Brida NTB, I Gede Putu Aryadi, mengatakan sayembara riset dan inovasi daerah merupakan program pertama yang digagas langsung oleh Gubernur NTB dan dipercayakan kepada Brida sebagai pelaksana.
"Sayembara ini menjadi ruang kolaborasi bagi peneliti muda untuk menghadirkan solusi nyata atas berbagai persoalan pembangunan di NTB," ujarnya di Lombok Barat, Selasa.
Menurutnya, pemerintah tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan pembangunan tanpa dukungan berbagai pihak. Untuk itu, hasil riset diharapkan tidak berhenti sebagai dokumen ilmiah, tetapi berkembang menjadi inovasi yang dapat diterapkan sebagai dasar pengambilan kebijakan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
"Brida NTB menetapkan tiga tema prioritas penelitian, yakni pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan dan energi, serta pariwisata berkelanjutan," kata Gede Aryadi.
Baca juga: Brida NTB perkuat hilirisasi riset pertanian melalui inovasi Jepang
Ia menambahkan NTB memiliki potensi riset yang besar dengan ratusan perguruan tinggi, lembaga penelitian, komunitas, serta ribuan hasil penelitian yang telah dihasilkan. Potensi tersebut perlu dihubungkan dengan kebutuhan pembangunan agar menghasilkan inovasi yang berdampak.
Karena itu, Brida menggandeng akademisi, peneliti, praktisi, dan unsur independen dalam tim evaluasi untuk memastikan proses seleksi berlangsung objektif, profesional, dan berorientasi pada hasil.
"Sebanyak 15 proposal terbaik nantinya akan memperoleh pendanaan stimulus sebesar Rp30 juta per proposal, disertai pendampingan oleh tim evaluasi hingga tahap implementasi agar hasil riset dapat diterapkan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," katanya.
Baca juga: Pemprov NTB menyiapkan dana stimulus proposal riset Rp450 juta
Anggota Tim Evaluasi, Khairul Hamim mengatakan sayembara riset bukan sekadar kompetisi, melainkan wadah untuk menguji kemampuan peneliti muda dalam menawarkan solusi atas persoalan daerah.
Ia menegaskan bahwa riset yang dihasilkan harus bersifat terapan sehingga mampu menjadi dasar kebijakan maupun menghasilkan inovasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Menurut Khairul, tiga tema prioritas dipilih karena berkaitan langsung dengan kebutuhan pembangunan NTB. Pada bidang pengentasan kemiskinan, peserta dapat mengembangkan penelitian mengenai model intervensi, evaluasi program pemerintah, tata kelola desa, dan pemberdayaan masyarakat.
Sementara pada bidang ketahanan pangan dan energi, penelitian diarahkan pada peningkatan produktivitas pertanian, diversifikasi pangan lokal, hilirisasi hasil pertanian, hingga pengembangan energi.
"Adapun tema pariwisata berkelanjutan mencakup pengelolaan destinasi, penguatan pariwisata berbasis masyarakat, konservasi lingkungan, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia sektor pariwisata," katanya.
Pewarta : Nur Imansyah
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026