Tulungagung, Jawa Timur (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur mendorong pengembangan kopi sebagai komoditas ekonomi unggulan berbasis riset melalui forum Ngolah Pikir dan Inspirasi (Ngopi) yang mempertemukan petani, pelaku usaha, akademisi, dan pemerintah.

Acara digelar di Lapangan Desa Mulyosari, Kecamatan Pagerwojo, Sabtu yang diikuti sejumlah pelaku usaha dan industri kopi lokal yang ada di daerah itu.

Kepala BRIDA Tulungagung Wahiyd Masrur yang hadir langsung dalam kegiatan itu mengatakan, pengembangan kopi tidak hanya berpotensi meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga mendukung pelestarian kawasan hutan karena tanaman kopi dapat dibudidayakan tanpa mengubah tutupan vegetasi.

"Kopi menjadi solusi yang mampu menjaga keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, dan kelestarian lingkungan. Karena itu, pengembangannya perlu didukung melalui riset dan kolaborasi berbagai pihak," kata Waciyd Masrur dalam sambutannya.

Menurut dia, sejumlah wilayah di Tulungagung memiliki potensi pengembangan kopi, di antaranya Kecamatan Pagerwojo, Sendang, Gondang, Campurdarat, Besuki, Tanggunggunung, hingga Pucanglaban.

BRIDA, lanjut Wahiyd, akan memperkuat pengembangan komoditas tersebut melalui penyediaan data dan hasil riset sebagai dasar penyusunan kebijakan maupun pengembangan produk kopi khas Tulungagung.

Dalam forum tersebut, BRIDA juga menghadirkan petani kopi sebagai narasumber untuk berbagi pengalaman mengenai budidaya hingga pemasaran hasil panen.

Salah satu petani sekaligus pelaku industri kopi lokal lereng Gunung Wilis, Badi (58) mengatakan, budidaya kopi mampu memberikan manfaat ekonomi tanpa merusak lingkungan karena tanaman tersebut tumbuh di bawah naungan pohon yang sudah ada.

Kegiatan usaha pertanian itu dia sebut mampu menjaga fungsi konservasi air dan kelestarian hutan.

Badi yang tinggal dan bermukim di Desa Nglurup, Kecamatan Sendang itu mengaku mengembangkan kopi arabika sejak 2018 setelah mengikuti sosialisasi Bank Indonesia Kediri mengenai potensi budidaya kopi di kawasan pegunungan.

Berbekal ketinggian lahan sekitar 1.100 meter di atas permukaan laut, Badi menanam sekitar 4.000 pohon kopi arabika yang kini menjadi sumber pendapatan utama keluarganya.

Ia mengatakan hasil panen sebagian besar diolah menjadi kopi sangrai dengan merek Kopi Mbah Badi untuk meningkatkan nilai tambah dibanding menjual biji kopi mentah.

"Sekarang ekonomi keluarga kami ditopang dari kopi. Istri dan anak juga ikut mengelola usaha ini," katanya.

Melalui kegiatan itu, BRIDA berharap kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha dapat mempercepat lahirnya kopi khas Tulungagung yang memiliki daya saing sekaligus memperkuat kesejahteraan petani di kawasan pegunungan.

Pewarta: Destyan H. Sujarwoko
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.