Bupati Kotim segera panggil Pertamina respons antrean panjang BBM

Senin, 3 Agustus 2026 20:22 WIB

Image Print

Kondisi antrean di salah satu SPBU di Kota Sampit, Senin (3/8/2026). ANTARA/Devita Maulina

Sampit (ANTARA) - Bupati Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, Halikinnor segera memanggil pihak Pertamina untuk meminta penjelasan terkait antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Sampit dalam beberapa hari terakhir.

“Kita akan panggil dulu Kepala Pertamina, apa masalahnya. Kalau memang kuotanya berkurang, kita akan ajukan tambahan kuota sesuai kebutuhan,” kata Halikinnor di Sampit, Senin.

Pernyataan itu disampaikan menyusul keluhan masyarakat mengenai sulitnya memperoleh BBM jenis Pertalite dan Pertamax di sejumlah SPBU.

Kondisi tersebut memicu antrean kendaraan yang mengular dan mengganggu aktivitas masyarakat, terutama pengguna kendaraan yang bergantung pada pasokan BBM setiap hari.

Halikinnor menilai, secara umum antrean panjang kemungkinan dipengaruhi oleh berkurangnya pasokan maupun meningkatnya kebutuhan BBM selama musim kemarau yang tengah berlangsung.

“Hal ini biasanya berkaitan dengan pasokan yang kurang. Sementara pada musim kemarau kebutuhan BBM justru meningkat karena banyak aktivitas yang membutuhkan bahan bakar,” ujarnya.

Menurutnya, salah satu penyebab meningkatnya konsumsi BBM berasal dari intensitas penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus dilakukan oleh pemerintah daerah bersama tim gabungan.

Contoh, kendaraan operasional Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemadam kebakaran, hingga relawan harus bekerja hampir setiap hari untuk melakukan patroli maupun pemadaman di sejumlah titik rawan kebakaran.

“Biasanya kan tidak ada kegiatan pemadaman setiap hari. Sekarang karena karhutla, petugas harus terus bergerak sehingga otomatis membutuhkan BBM lebih banyak,” ucapnya.

Baca juga: Pemkab Kotim dan Bapas Sampit kerja sama laksanakan pidana kerja sosial

Selain itu, aktivitas sektor usaha, termasuk pertambangan dan pekerjaan lapangan lainnya, juga dinilai turut meningkatkan konsumsi BBM pada musim kemarau sehingga permintaan menjadi lebih tinggi dibandingkan kondisi normal.

Meski begitu, Halikinnor menegaskan pemerintah daerah belum dapat menyimpulkan penyebab utama kelangkaan maupun antrean panjang tersebut sebelum memperoleh penjelasan resmi dari pihak Pertamina.

Ia menduga terdapat sejumlah faktor teknis yang mempengaruhi distribusi, mulai dari kendala pengiriman hingga hambatan pasokan ke daerah.

“Kalau saya melihat secara umum, mungkin ada kendala pada distribusi, entah karena tanker terhambat atau penyebab teknis lainnya yang membuat pasokan BBM berkurang. Tetapi nanti kita tanyakan langsung ke depot Pertamina karena mereka yang lebih memahami persoalannya,” lanjutnya.

Halikinnor menambahkan, Pemkab Kotim belum mengajukan usulan penambahan kuota BBM karena masih menunggu hasil koordinasi dengan Pertamina.

Apabila hasil pembahasan menunjukkan kuota yang tersedia sudah tidak lagi mencukupi kebutuhan masyarakat, pemerintah daerah siap mengusulkan penambahan alokasi BBM kepada pihak terkait agar distribusi kembali normal dan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi.

“Kita upayakan agar segera mendapat solusi supaya aktivitas masyarakat maupun upaya penanganan karhutla tidak terganggu akibat kendala bahan bakar ini,” demikian Halikinnor.

Baca juga: Bupati Kotim tekankan kolaborasi dalam pembangunan daerah

Baca juga: Bupati Kotim minta OPD percepat usulan anggaran hadapi musim kemarau

Baca juga: Dinkes Kotim siapkan ruang oksigen antisipasi dampak kabut asap

Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.