Butuh 27 M dolar lagi untuk kejar usia harapan hidup 76 tahun
Jakarta (ANTARA) - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, masih dibutuhkan sekitar 26-27 miliar dolar AS untuk transformasi sistem kesehatan nasional guna meningkatkan usia harapan hidup menjadi 76 tahun dan umur harapan hidup sehat menjadi 65 tahun.
Budi mengatakan dalam 4th Indonesia Health Partners Meeting (IHPM) bahwa kedua target tersebut, yang ditetapkan oleh Presiden Prabowo Subianto, adalah untuk memastikan bahwa masyarakat Indonesia hidupnya lebih panjang dan bisa menikmati masa-masa sehatnya lebih lama.
"Tidak enak (kalau) punya hidup panjang tapi demensia di 10 tahun terakhir kehidupan Anda. Atau punya stroke yang membuat Anda tidak bisa jalan dengan benar di 10 tahun terakhir kehidupan Anda," katanya di Jakarta, Selasa.
Dia menjelaskan bahwa secara total, dibutuhkan 223 miliar dolar AS untuk transformasi itu. Dari sistem dan pemerintah, sudah disediakan sekitar 203 miliar dolar AS, dan dialokasikan 177 miliar dolar AS untuk transformasi tersebut, sehingga ada kekurangan sebesar 26-27 miliar dolar AS perlu dipenuhi dalam waktu lima tahun.
Untuk memenuhi itu, katanya, pihaknya pun berupaya membangun kepercayaan dari para mitra global dan filantropis.
Budi menyebutkan bahwa sejak awal menjabat sebagai Menteri Kesehatan, kolaborasi dengan para mitra global meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Dia mencontohkan, dalam setahun, sebanyak sekitar 300 ribu alat antropometri dibagikan ke posyandu di 7000 pulau berpenghuni.
"Kita juga berhasil membagikan 10 ribu ultrasound ke 10 ribu puskesmas. Sebelumnya, ibu-ibu hamil —hanya ada 22 persen puskesmas kita yang punya ultrasound. Bayangkan Anda mau melahirkan tapi tidak dapat ultrasound satu pun untuk mengerti kondisi kehamilan Anda," katanya.
Kemudian, mesin X-ray dibagikan ke puskesmas-puskesmas untuk melakukan skrining tuberkulosis. Harapannya, katanya, pada 2026 sebanyak 2000 X-ray bisa dikirimkan, dan pada tahun depan sebanyak 4000 X-ray bisa dikirimkan.
Selain itu, kata Budi, puskesmas kini mulai dilengkapi dengan teknologi Near Point of Care Testing (NPOCT) Terminal, yang memungkinkan puskesmas untuk mendeteksi patogen, agar dapat mengetahui apabila ada patogen atau penyakit menular.
Sebagai bagian dari transformasi kesehatan, Indonesia juga telah melaksanakan Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk mencegah keparahan akibat penyakit tak menular, serta mengembangkan tes genomik untuk memahami kondisi kesehatan demografi dan membangun langkah-langkah untuk memperpanjang angka harapan hidup.
Untuk membantu inisiatif-inisiatif tersebut, katanya, diperlukan dukungan pembiayaan dari mitra global dan filantropis.
Baca juga: Menkes pastikan operasi berjalan meski RSUD Ruteng terdampak gempa NTT
Baca juga: Menkes: Nakes sebagai pelayan masyarakat tak boleh nirempati
Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.