Cara Menjawab Alasan Memilih Jurusan Kuliah Saat Interview Kerja dengan Meyakinkan
Tidak ada satu jawaban yang paling benar untuk pertanyaan ini. Yang lebih penting adalah kemampuan kandidat menjelaskan pilihannya secara jujur, terstruktur, dan memiliki kaitan dengan pengalaman yang benar-benar pernah dijalani.
Baca Juga: Cara Menjawab Mengapa Anda Cocok untuk Posisi Ini Saat Interview Kerja
Pewawancara ingin memahami alasan di balik pilihan pendidikan
Ketika pewawancara menanyakan alasan memilih jurusan kuliah, kandidat tidak perlu menganggapnya sebagai pertanyaan yang harus dijawab dengan cerita sempurna. Pilihan jurusan seseorang bisa dipengaruhi banyak hal, mulai dari ketertarikan pribadi, pertimbangan karier, rekomendasi keluarga, kondisi tertentu, hingga kesempatan yang tersedia saat mendaftar kuliah.
Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kandidat menceritakan proses tersebut.
Misalnya, seseorang memilih jurusan Teknik Informatika karena sejak sekolah tertarik dengan komputer. Jawaban tersebut masih dapat dikembangkan dengan menjelaskan apa yang kemudian dipelajari selama kuliah, proyek apa yang pernah dikerjakan, serta keterampilan apa yang akhirnya terbentuk.
Dengan begitu, jawaban tidak berhenti pada alasan memilih jurusan, tetapi menunjukkan perkembangan kandidat dari awal masuk kuliah hingga berada di tahap mencari pekerjaan.
Jawaban perlu menghubungkan jurusan dengan pengalaman nyata
Salah satu cara menjawab alasan memilih jurusan kuliah saat interview kerja adalah menghubungkan pilihan pendidikan dengan pengalaman yang benar-benar pernah dijalani.
Hindari jawaban yang hanya menyebutkan, “Saya memilih jurusan ini karena saya suka bidang tersebut.” Pernyataan itu memang dapat menjadi pembuka, tetapi belum memberikan gambaran yang cukup mengenai pengalaman kandidat.
Ceritakan apa yang membuat ketertarikan tersebut berkembang selama kuliah. Mata kuliah tertentu, tugas akhir, penelitian, organisasi, kegiatan praktikum, magang, atau proyek kelompok dapat menjadi bahan untuk memperkuat jawaban.
Sebagai contoh, kandidat dari jurusan Sistem Informasi dapat menjelaskan bahwa ketertarikannya terhadap teknologi berkembang ketika mengerjakan proyek perancangan sistem. Dari pengalaman tersebut, ia belajar memahami kebutuhan pengguna, menganalisis proses bisnis, sekaligus bekerja bersama anggota tim.
Cerita semacam ini lebih kuat karena menunjukkan hubungan antara pilihan jurusan dan pengalaman yang benar-benar dimiliki.Keterampilan dari bangku kuliah dapat menjadi bagian penting dari jawaban
Jurusan kuliah tidak hanya menghasilkan pengetahuan teoritis. Selama menjalani pendidikan, mahasiswa biasanya juga mengembangkan berbagai keterampilan melalui tugas, proyek, praktikum, organisasi, maupun kegiatan lainnya.
Karena itu, ketika menjelaskan alasan memilih jurusan, kandidat dapat mengarahkan pembicaraan pada kemampuan yang berhasil dibangun selama kuliah.
Mahasiswa jurusan Akuntansi, misalnya, dapat menjelaskan bahwa ketertarikannya terhadap pengelolaan keuangan mendorongnya memilih bidang tersebut. Selama kuliah, ketertarikan itu kemudian berkembang melalui pengalaman mengerjakan laporan keuangan, menganalisis transaksi, dan menggunakan perangkat lunak pendukung.
Sementara itu, mahasiswa Ilmu Komunikasi dapat mengaitkan pilihan jurusan dengan ketertarikan terhadap cara menyampaikan informasi. Pengalaman membuat konten, melakukan presentasi, melakukan riset audiens, atau mengelola kegiatan komunikasi dapat digunakan sebagai bukti perkembangan keterampilan.
Intinya, jangan hanya menyebut apa yang dipelajari. Jelaskan bagaimana pengalaman tersebut membentuk kemampuan yang bisa digunakan dalam pekerjaan.
Hubungan antara jurusan dan posisi yang dilamar perlu dijelaskan secara masuk akal
Jawaban akan menjadi lebih relevan ketika kandidat mampu menjelaskan hubungan antara latar belakang pendidikan dan posisi yang sedang dilamar. Hubungan tersebut tidak harus selalu bersifat langsung.
Seorang lulusan Psikologi yang melamar sebagai HR, misalnya, dapat menjelaskan bahwa selama kuliah ia mempelajari perilaku manusia dan memperoleh pengalaman melakukan observasi maupun wawancara. Pengetahuan tersebut kemudian menjadi salah satu alasan ia tertarik mengembangkan karier di bidang sumber daya manusia.
Namun, bagaimana jika pekerjaan yang dilamar tidak sesuai dengan jurusan?
Situasi tersebut bukan berarti kandidat tidak memiliki jawaban yang baik. Justru, kesempatan tersebut dapat digunakan untuk menjelaskan bagaimana keterampilan dari jurusan sebelumnya dapat diterapkan pada bidang baru.
Lulusan Sastra yang melamar sebagai content writer, misalnya, dapat menghubungkan kemampuan menulis, memahami struktur bahasa, melakukan riset, dan menyampaikan gagasan dengan kebutuhan pekerjaan. Sementara lulusan Teknik yang melamar ke bidang manajemen proyek dapat menekankan pengalaman menyelesaikan proyek, mengatur tenggat waktu, menganalisis masalah, dan bekerja dalam tim.
Hubungan yang dijelaskan tidak perlu dipaksakan. Selama argumennya masuk akal dan didukung pengalaman nyata, perbedaan jurusan dan pekerjaan dapat dijelaskan dengan baik.
Baca Juga: Cara Menjawab Ekspektasi Gaji Saat Interview Kerja
Kejujuran tetap penting ketika alasan memilih jurusan tidak ideal
Tidak semua orang memilih jurusan kuliah karena sudah memiliki tujuan karier yang jelas sejak awal. Ada yang mengikuti rekomendasi orang tua, memilih berdasarkan nilai masuk, mengikuti teman, atau baru menemukan minat setelah menjalani perkuliahan.
Kondisi tersebut tidak perlu ditutupi dengan cerita yang dibuat-buat.
Jika awalnya pilihan jurusan dipengaruhi keluarga, misalnya, kandidat dapat menjelaskan hal tersebut secara singkat lalu melanjutkan dengan pengalaman yang membentuk keputusan pribadinya.
Contohnya, seseorang dapat mengatakan bahwa pada awalnya ia mendapat dorongan dari keluarga untuk memilih suatu jurusan. Setelah menjalani perkuliahan, ia menemukan ketertarikan terhadap bidang tertentu melalui proyek dan mata kuliah yang diikuti. Dari pengalaman itulah kemudian muncul keinginan untuk membangun karier di bidang yang relevan.
Jawaban seperti ini terdengar lebih manusiawi karena tidak berusaha menciptakan perjalanan karier yang seolah-olah sudah direncanakan sejak usia remaja.
Persiapan sebelum interview membantu membuat jawaban lebih natural
Sebelum menghadiri interview, kandidat dapat mengingat kembali perjalanan kuliahnya. Tidak perlu menghafalkan naskah panjang. Cukup siapkan beberapa pengalaman yang paling relevan.
Perhatikan kembali mata kuliah yang paling diminati, proyek yang pernah dikerjakan, pengalaman organisasi atau magang, keterampilan yang berkembang, serta alasan memilih posisi yang sedang dilamar.
Selanjutnya, baca kembali deskripsi pekerjaan. Cari tahu tanggung jawab utama posisi tersebut dan tentukan pengalaman kuliah mana yang paling relevan untuk diceritakan.
Persiapan seperti ini membuat jawaban lebih spesifik. Kandidat juga akan lebih siap ketika pewawancara memberikan pertanyaan lanjutan seperti “Apa yang paling Anda pelajari dari jurusan tersebut?” atau “Bagaimana pengalaman itu membantu Anda dalam posisi yang kami tawarkan?”
Sikap saat menjawab ikut menentukan kualitas penyampaian
Isi jawaban memang penting, tetapi cara menyampaikannya juga tidak kalah penting. Hindari memberikan jawaban dengan nada defensif ketika jurusan yang ditempuh tidak sepenuhnya sesuai dengan posisi yang dilamar.
Jika terdapat perbedaan bidang, sampaikan dengan tenang. Fokuskan pembicaraan pada keterampilan yang dimiliki dan alasan mengapa Anda tertarik mempelajari bidang baru tersebut.
Jangan pula berusaha memberikan jawaban yang terdengar terlalu sempurna. Pewawancara tidak selalu membutuhkan cerita bahwa setiap keputusan dalam hidup sudah direncanakan sejak awal. Jawaban yang jujur, jelas, dan mampu menunjukkan proses perkembangan diri justru dapat memberikan gambaran yang lebih realistis mengenai kandidat.
Latar belakang pendidikan tetap dapat menjadi modal untuk memasuki dunia kerja
Pertanyaan mengenai alasan memilih jurusan kuliah pada akhirnya bukan sekadar membahas keputusan masa lalu. Kandidat memiliki kesempatan untuk menunjukkan bagaimana pengalaman pendidikan tersebut membentuk dirinya hingga berada pada tahap mencari pekerjaan.
Bagi mahasiswa dan fresh graduate, pengalaman akademis dapat menjadi sumber cerita utama karena pengalaman profesional mungkin masih terbatas. Tugas kuliah, proyek, organisasi, penelitian, praktikum, hingga magang dapat digunakan untuk menunjukkan kemampuan yang relevan.
Sementara bagi kandidat yang sudah memiliki pengalaman kerja, pembahasan mengenai jurusan dapat diarahkan pada bagaimana pendidikan tersebut menjadi fondasi yang kemudian dikembangkan melalui pengalaman profesional.
Dengan demikian, tidak ada keharusan untuk memiliki jurusan yang seratus persen sama dengan pekerjaan. Yang lebih penting adalah mampu menjelaskan perjalanan tersebut secara logis dan menunjukkan alasan mengapa pengalaman yang dimiliki relevan dengan posisi yang dituju.
Mutiara MY (Magang)