Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

07 September 2026 11:10

Jakarta, CNBC Indonesia - Aktivitas Gunung Anak Krakatau berdampak aktivitas ekonomi, terutama karena banyaknya penerbangan yang dibatalkan. Dalam jangka panjang, letusan bisa membuat banyak aktivitas ekonomi terganggu mulai dari pariwisata, transportasi, hingga pangan. 

Kondisi ini tentu saja akan berdampak terhadap sejumlah emiten yang menjalankan bisnis di sektor tersebut.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi dua klaster abu vulkanik yang mencakup Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, hingga Bengkulu. Penyebaran tersebut membuat delapan bandara sempat ditutup sementara yakni Bandara Soekarno-Hatta Tangerang, Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta, Bandara Radin Inten II Lampung, Bandara Husein Sastranegara Bandung, Bandara Budiarto Curug Tangerang, Bandara Pondok Cabe Tangerang Selatan, Bandara Taufik Kiemas di Pesisir Barat Lampung, serta Bandara Atung Bungsu di Pagar Alam, Sumatera Selatan.

Namun, satu bandara sudah dibuka pada Senin pagi yakni Pagar Alam.

Sedikitnya terdapat 10 emiten yang memiliki jalur paparan langsung maupun tidak langsung terhadap peristiwa tersebut.

Penerbangan Menanggung Dampak Pertama

GIAA dan CMPP berada pada lapisan risiko pertama karena operasional maskapai bergantung langsung pada kondisi bandara dan ruang udara. Ketika penerbangan dibatalkan, pesawat kehilangan kesempatan menghasilkan pendapatan, sedangkan biaya operasional tetap berjalan.

Di Soekarno-Hatta, tercatat 963 penerbangan terdampak, terdiri dari 453 kedatangan dan 510 keberangkatan.

Penumpang yang terdampar menunggu di terminal saat Bandara Internasional Soekarno Hatta menutup operasinya akibat letusan gunung berapi Gunung Anak Krakatau, di Tangerang, Banten, Senin 7 September 2026. REUTERS/Ajeng Dinar UlfianaPenumpang yang terdampar menunggu di terminal saat Bandara Internasional Soekarno Hatta menutup operasinya akibat letusan gunung berapi Gunung Anak Krakatau, di Tangerang, Banten, Senin 7 September 2026. REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana Foto: Penumpang yang terdampar menunggu di terminal saat Bandara Internasional Soekarno Hatta menutup operasinya akibat letusan gunung berapi Gunung Anak Krakatau, di Tangerang, Banten, Senin 7 September 2026. REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana

GIAA berpotensi menanggung dampak nominal lebih besar karena skala jaringan Garuda Indonesia dan Citilink. Sementara itu, CMPP dapat lebih sensitif karena kondisi keuangannya relatif rentan dan model maskapai berbiaya rendah mengandalkan utilisasi pesawat yang tinggi.

Meski demikian, belum tersedia perincian resmi mengenai jumlah penerbangan dan nilai kerugian masing-masing emiten. Karena itu, dampaknya belum dapat dihitung berdasarkan jumlah penerbangan yang terganggu secara nasional.

Penumpang yang terdampar beristirahat saat Bandara Internasional Soekarno Hatta ditutup operasinya akibat letusan gunung berapi Gunung Anak Krakatau, di Tangerang, Banten, Senin, 7/9/2026. REUTERS/Ajeng Dinar UlfianaPenumpang yang terdampar beristirahat saat Bandara Internasional Soekarno Hatta ditutup operasinya akibat letusan gunung berapi Gunung Anak Krakatau, di Tangerang, Banten, Senin, 7/9/2026. REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana Foto: Penumpang yang terdampar beristirahat saat Bandara Internasional Soekarno Hatta ditutup operasinya akibat letusan gunung berapi Gunung Anak Krakatau, di Tangerang, Banten, Senin, 7/9/2026. REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana

Gangguan kemudian dapat merambat ke CASS. Berkurangnya penerbangan berarti lebih sedikit aktivitas ground handling, bagasi, kargo dan katering.

Untuk GMFI, pengaruhnya dapat bersifat campuran. Penurunan jam terbang berpotensi mengurangi pekerjaan rutin. Sebaliknya, pesawat yang diduga terpapar abu dapat membutuhkan inspeksi tambahan sebelum kembali diterbangkan.

Risiko Industri dan Pelabuhan Masih Bersyarat

KIJA mempunyai paparan melalui KEK Tanjung Lesung di Pandeglang yang mengandalkan hotel, vila, pantai dan kegiatan bahari. Dampak awal kemungkinan berupa pembatalan kunjungan, bukan kerusakan aset.

Risikonya meningkat jika abu benar-benar jatuh di kawasan, aktivitas laut dibatasi atau wisatawan menghindari Tanjung Lesung dalam waktu lama. Namun, pengaruh terhadap KIJA secara keseluruhan dapat terbatas karena perusahaan juga memiliki bisnis di wilayah lain.

KRAS dan TPIA mempunyai fasilitas penting di Cilegon dan Serang. Abu vulkanik secara umum dapat menyumbat filter, mengganggu mesin serta memengaruhi sistem air dan pendingin. Namun, belum ada pengumuman bahwa fasilitas kedua perusahaan tersebut mengalami gangguan.

TPIA juga mempunyai tangki dan fasilitas dermaga di Cilegon. Dampaknya dapat membesar apabila aktivitas pelabuhan atau pengiriman bahan baku melalui laut terhambat. Pabrik petrokimia menggunakan proses berkelanjutan sehingga penghentian dan pengoperasian kembali fasilitas membutuhkan prosedur teknis.

Sementara itu, risiko PTBA berada di Pelabuhan Tarahan, Lampung, bukan tambang utamanya di Sumatra Selatan. Dampaknya baru material jika aktivitas kapal dan bongkar muat dihentikan sehingga pengiriman batu bara tertunda. Sejauh ini belum ditemukan pengumuman penutupan Pelabuhan Tarahan.

Abu Berkepanjangan Bisa Menekan Perkebunan

TBLA dan BUDI menjadi relevan apabila abu jatuh di lokasi kebun atau pabrik dan berlangsung beberapa hari.

TBLA memiliki risiko paling berlapis karena bisnisnya mencakup perkebunan sawit dan tebu, pemanenan, pengangkutan hasil kebun, serta pengolahan CPO, gula dan biodiesel.

Gangguan pertama kemungkinan mengenai pekerja dan kegiatan panen. Jika kualitas udara memburuk, aktivitas luar ruangan dapat dikurangi. Keterlambatan membawa tandan buah segar menuju pabrik juga dapat menurunkan kualitas bahan baku.

Dampak terhadap tanaman baru menjadi serius jika abu cukup tebal untuk menutupi daun dan menghambat fotosintesis. Sawit dan tebu relatif lebih tahan dibandingkan sayuran daun sehingga hujan abu singkat belum tentu menekan produksi.

Pada BUDI, risiko utama berada pada pasokan singkong dan pengangkutan bahan baku menuju pabrik tapioka dan pemanis. Singkong relatif terlindungi karena bagian yang dipanen berada di dalam tanah. Ancaman jangka pendek lebih mungkin berasal dari gangguan jalan, keterlambatan panen atau berkurangnya bahan baku.

Secara keseluruhan, penerbangan menjadi sektor dengan dampak paling jelas. Risiko terhadap emiten lainnya baru menjadi persoalan fundamental jika muncul konfirmasi gangguan fasilitas, pelabuhan, pariwisata, panen atau distribusi. Tanpa itu, pergerakan saham kemungkinan lebih banyak dipengaruhi sentimen jangka pendek.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)