Salma Laiqa,  CNBC Indonesia

09 August 2026 10:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Gaji tinggi ternyata belum tentu cukup untuk mencapai "harga kebahagiaan".

Sebuah analisis menunjukkan adanya kesenjangan antara rata-rata pendapatan pekerja dan tingkat penghasilan yang dikaitkan dengan kebahagiaan maksimal di berbagai negara.

Di sebagian besar negara, rata-rata pekerja masih memiliki pendapatan di bawah tingkat yang dikaitkan dengan kebahagiaan maksimal.

Sejumlah penelitian mengenai pendapatan dan kebahagiaan menemukan adanya "titik jenuh" (satiation point), yaitu tingkat pendapatan ketika tambahan penghasilan tidak lagi meningkatkan kebahagiaan seseorang. Lantas, seberapa dekat rata-rata pendapatan pekerja dengan batas tersebut?

Analisis dari Remitly menghitung "harga kebahagiaan" di berbagai negara dan membandingkannya dengan rata-rata pendapatan pekerja setempat.

Analisa tersebut  memeringkat 50 negara berdasarkan seberapa dekat rata-rata pendapatan tahunan pekerja dengan batas "harga kebahagiaan".

Analisis tersebut mengacu pada riset Purdue University mengenai titik jenuh pendapatan serta data International Labour Organization (ILO), dengan penyesuaian terhadap daya beli, inflasi, dan nilai tukar mata uang.

Slovenia Menjadi Satu-Satunya Negara Dimana Gaji Lebih Tinggi Dari Harga Kebahagiaan

Slovenia menjadi satu-satunya dari 50 negara yang dianalisis dengan rata-rata gaji melampaui "harga kebahagiaan". Artinya, rata-rata pekerja di Slovenia telah memiliki pendapatan di atas tingkat yang dikaitkan dengan kebahagiaan maksimal.

Tidak ada negara lain yang melampaui batas tersebut. Luxembourg menjadi yang paling mendekati dengan rata-rata gaji mencapai 92,8% dari harga kebahagiaan. Estonia menyusul dengan 90,5%, Singapura 90,0%, dan Lithuania 89,2%.

Tabel berikut menunjukkan rata-rata gaji tahunan dan harga kebahagiaan di masing-masing negara, serta seberapa dekat pendapatan pekerja dengan batas tersebut.

Negara-negara Eropa Tengah dan Timur mendominasi peringkat atas, dengan tujuh negara masuk dalam 11 besar, termasuk Estonia, Lithuania, Ceko, Latvia, Yunani, Rumania, dan Polandia.

Rata-rata gaji di negara-negara tersebut memang relatif rendah dibandingkan negara lain, tetapi estimasi "harga kebahagiaan" mereka juga lebih rendah sehingga selisih antara gaji dan batas tersebut lebih kecil. Pola serupa terlihat dari sisi daya beli, dengan sejumlah negara yang sama juga mencatatkan posisi tinggi dalam peringkat kemampuan gaji untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Gaji Besar Tak Menjamin Kebahagiaan

Amerika Serikat mencatat rata-rata gaji tahunan sebesar US$75.300 (Rp1,35 miliar). Harga kebahagiaannya jauh lebih tinggi, mencapai US$134.800 (Rp2,41 miliar). Alhasil, rata-rata gaji pekerja baru mencapai 55,8% dari batas tersebut.

Australia memiliki harga kebahagiaan tertinggi dalam peringkat, yakni US$161.300 (Rp2,88 miliar), lebih dari dua kali lipat rata-rata gajinya yang sebesar US$59.000 (Rp1,06 miliar). Dengan gaji yang baru mencapai 36,6% dari batas kebahagiaan, Australia berada di peringkat ke-39.

Pola serupa terlihat di Inggris (35,9%), Kanada (44,4%), dan Selandia Baru (34,0%). Meski rata-rata gajinya relatif tinggi, pekerja di negara-negara tersebut justru lebih jauh dari batas kebahagiaan dibandingkan sejumlah negara bergaji lebih rendah di Eropa Tengah dan Timur.

Ekuador berada di posisi terakhir dari 50 negara yang dianalisis. Rata-rata gajinya sebesar US$6.500 (Rp116,3 juta) baru mencapai 32,9% dari harga kebahagiaan sebesar US$19.700 (Rp352,4 juta).

(slm/slm)