Mataram (ANTARA) - Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Nusa Tenggara Barat, Hj. Sinta M. Iqbal mendorong UMKM setempat dapat menjadi tulang punggung pendongkrak perekonomian dan investasi di daerah.

“UMKM adalah pahlawan ekonomi yang bekerja di balik layar. Mereka terus berinovasi, berani mencoba, dan mampu bertahan meskipun dengan berbagai keterbatasan. Inilah kekuatan yang harus terus kita dukung bersama," ujarnya di Mataram, Jumat.

Menurutnya, Dekranasda terus memperkuat sinergi dengan Dinas Perindustrian, Dinas Koperasi dan UKM, serta berbagai perangkat daerah melalui pembinaan, pelatihan, pendampingan usaha, peningkatan kualitas produk, hingga perluasan akses pasar.

Salah satu program yang terus diperkuat adalah kurasi produk melalui Gerai Balekita sebagai etalase produk-produk UMKM lokal yang telah memenuhi standar kualitas dan keaslian produk.

Bagi pelaku usaha yang produknya belum memenuhi standar, pemerintah memberikan pembinaan agar mampu meningkatkan kualitas dan daya saing hingga menembus pasar nasional maupun internasional.

"Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB terus mendorong lahirnya UMKM berorientasi ekspor," kata Sinta.

Ia menyebutkan sejumlah produk unggulan daerah telah berhasil memasuki pasar internasional, termasuk Jepang dan Arab Saudi, bahkan beberapa pelaku usaha telah menerima permintaan dari negara lainnya.

Untuk itu ke depan, Dekranasda bersama Pemprov NTB akan terus memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam memperluas pendampingan usaha, meningkatkan kualitas SDM, serta mempercepat layanan perizinan guna meningkatkan daya saing UMKM dan mendorong pertumbuhan investasi yang semakin inklusif dan berkelanjutan.

Sebelumnya, realisasi investasi di NTB pada semester I tahun 2026 tembus di angka Rp33,73 triliun atau setara 51,26 persen. Salah satu, pendongkrak-nya berasal dari sektor UMKM.

Kepala Dinas DPMPTSP NTB, Irnadi Kusuma, mengakui realisasi investasi ini tidak terlepas karena didorong oleh pertumbuhan investasi sektor UMK yang terus menunjukkan tren positif.

Berdasarkan data DPMPTSP NTB, realisasi investasi NTB pada triwulan I sebesar Rp18,07 triliun, sedangkan triwulan II sebesar Rp15,17 triliun sehingga total realisasi investasi pada semester I tahun 2026 mencapai Rp33,73 triliun dari target tahunan sekitar Rp64 triliun yang ditetapkan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

"Selain kelompok usaha besar, investasi pada sektor UKM juga mencatat kenaikan. Semester I tahun 2026 mencatatkan realisasi sebesar Rp496,67 miliar. Angka ini melonjak 22,28 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025 sebesar Rp406,19 miliar," terang Irnadi.

Ia mengatakan berdasarkan pengalaman pada akhir 2025,  menunjukkan investasi UMKM menjadi faktor penentu keberhasilan NTB mencapai realisasi investasi sebesar 100,2 persen. Melalui arahan Kementerian Investasi, data investasi UMKM senilai lebih dari Rp600 miliar berhasil dimasukkan, sehingga mampu menutup kekurangan capaian investasi daerah.

"Pemerintah menargetkan realisasi investasi UMKM mampu menembus Rp1 triliun hingga akhir 2026 melalui berbagai program pendampingan, digitalisasi usaha, kemudahan perizinan, serta perluasan akses pembiayaan," ujarnya.

Lebih lanjut, Irnadi, menegaskan DPMPTSP berkomitmen memberikan kemudahan berusaha, perlindungan usaha, serta pemberdayaan bagi koperasi dan UMKM.

Hal ini, sejalan dengan implementasi PP Nomor 7 Tahun 2021 tentang Kemudahan, Pelindungan, dan Pemberdayaan Koperasi serta UMKM. Bentuknya, pemberian izin dipermudah melalui Online Single Submission Risk-Based Approach (OSS-RBA). Termasuk, peningkatan kapasitas SDM, perluasan akses pembiayaan, serta dorongan digitalisasi untuk perluasan pasar UMKM.

"Kami optimistis target investasi tahun 2026 baik itu target dari BKPM Rp64,83 triliun serta target dalam RPJMD Rp68,43 triliun dapat terlampaui seiring dengan semakin kondusif-nya iklim investasi di NTB," katanya.