DEN dorong pembangunan penyimpanan BBM di Kepri
DEN dorong pembangunan penyimpanan BBM di Kepri
Sabtu, 3 Oktober 2026 08:14 WIB
Anggota Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional (DEN) RI Muhammad Kholid Syeirazi. (ANTARA/Ogen)
Tanjungpinang (ANTARA) - Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) dari unsur pemangku kepentingan, Muhammad Kholid Syeirazi, mendorong pembangunan fasilitas penyimpanan (storage) baru di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) untuk menyimpan bahan bakar minyak (BBM) maupun minyak mentah di luar cadangan operasional.
Kholid menyebut dari segi geografis Kepri sangat potensial, karena memiliki banyak pulau kecil untuk dibangun storage. Keberadaan fasilitas penyimpanan BBM tersebut dinilai penting guna meningkatkan ketahanan energi dalam negeri.
"Kalau ingin meningkatkan energi, kita harus punya fasilitas penyimpanan BBM di luar cadangan operasional," kata Kholid di Tanjungpinang, Jumat.
Ia menyebut sejauh ini baru terdapat satu storage yang beroperasi di wilayah Kepri, tepatnya di Tanjung Uban, Kabupaten Bintan.
DEN turut mendorong storage yang dikelola PT Pertamina tersebut disewakan kepada pemerintah untuk penyimpanan cadangan energi.
Selain di Bintan, kata dia, dalam waktu dekat juga direncanakan pembangunan storage di Kabupaten Karimun, yang akan melibatkan investor luar negeri asal Dubai.
Kholid mengakui dengan kondisi fiskal saat ini, tidak mudah bagi pemerintah membangun storage, sebab anggaran yang dibutuhkan relatif besar. Untuk kapasitas penyimpanan BBM setara 30 hari, memerlukan anggaran sekitar Rp47 triliun.
"Maka itu ada berbagai opsi dan model pembangunan storage, termasuk berkolaborasi dengan swasta. Jadi yang bangun swasta lalu disewakan ke pemerintah," ujar dia.
Lanjut Kholid berharap pembangunan storage di Karimun segera terealisasi sebagai upaya meningkatkan ketahanan cadangan energi nasional, khususnya di sektor BBM maupun minyak mentah.
Dia mencontohkan negara tetangga Singapura, memiliki fasilitas storage dengan kapasitas penyimpanan BBM setara 60 hari. Sedangkan di Indonesia di kisaran 21 sampai 25 hari.
Idealnya, kapasitas penyimpanan cadangan BBM di negara-negara maju sekitar 90 hari, sehingga ketika terjadi gangguan pasokan energi, masih bisa bertahan paling tidak tiga bulan.
"Minyak yang dibor itu tidak semuanya untuk kebutuhan konsumsi harian, tapi juga digunakan buat menjaga energi, yang kemudian dilepas dalam kondisi krisis BBM atau darurat energi," demikian Kholid.
Pewarta : Ogen
Editor:
Yuniati Jannatun Naim
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.