Departemen Arsitektur FTUI gelar workshop 3D robotic yang ketiga - ANTARA News Megapolitan
Depok (ANTARA) - Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) menggelar workshop 3D robotic yang ketiga kalinya.
"Workshop ini bertujuan untuk meperkenalkan sejauh perkembangan robotic 3d printing didunia arsitektur dan kontruksi, selain itu mendiseminasikan pengetahuan agar mereka memahami bahwa robot juga dapat dimanfaatkan dalam bidang arsitektur, bukan hanya industri otomotif," kata Dosen Departemen Arsitektur Mikta Farid Alkadri di Kampus UI Depok, Jumat.
Workshop tahun ini mengusung tema clay 3D printing, 3D scanning dan computational workflow yang memungkinkan robot mencetak material mengikuti tekstur dan kontur objek alami.
Workshop tersebut merupakan hasil kolaborasi UI bersama Florida Atlantic University, PT Surya Sarana Dinamika (SSD), PT Nindya Karya, serta Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta.
SSD mendukung penyediaan robot selama pelatihan, sementara PT Nindya Karya memberikan dukungan operasional dan material.
Kegiatan ini memperkenalkan alur kerja desain-ke-fabrikasi semi-otomatis untuk pencetakan tanah liat non-planar pada substrat organik tidak beraturan, seperti batuan.
Dengan menggunakan lengan robot yang dilengkapi dengan kamera kedalaman Intel RealSense dan jembatan geometris WASP, peserta akan memindai substrat, menghasilkan jalur alat adaptif, dan mencetak cetakan tanah liat tipis langsung di atasnya.
Cetakan tersebut kemudian dicor dengan bahan pengerasan sekunder untuk membentuk simpul litik terintegrasi.
Workshop dengan Instruktur yang terdiri dari pertama Celso Urroz (Kandidat PhD, Laboratorium Desain Lingkungan dan Material Alami, Universitas Florida Atlantic)
Kedua Miktha Farid Alkadri (Dosen Departemen Arsitektur FTUI dan Asst. Professor Universitas Indonesia Lab)
Ketiga Heidy Sekardini (Asisten Peneliti @PAR-Lab, UI Calon Mahasiswa Pascasarjana The Bartlett)
Miktha menjelaskan perkembangan teknologi robotik 3D printing di Indonesia jauh tertinggal dengan negara lainnya, seperti di Eropa dan Amerika Serikat yang telah digunakan untuk mencetak bangunan berukuran penuh dalam waktu relatif singkat menggunakan robot berkapasitas besar.
Sementara di Indonesia, penerapan robotik 3D printing masih berada pada tahap awal. Menurut Miktha, baru sedikit perusahaan yang memiliki teknologi tersebut, sehingga pengembangannya masih didominasi proses uji coba dan penelitian.
"Jumlah perusahaan yang memiliki robot untuk concrete 3D printing masih bisa dihitung dengan jari. Selain itu, regulasi dan standar teknisnya juga belum tersedia sehingga masih berada pada tahap trial and error," jelasnya.
Meski demikian, beberapa proyek percontohan telah dibangun di Indonesia, antara lain di Lampung dan Bogor, menggunakan teknologi concrete 3D printing. Bangunan tersebut masih sebatas proyek demonstrasi dan belum diproduksi secara massal untuk kebutuhan pasar.
Pewarta: Feru Lantara
Uploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.