Jakarta -

Jaguar Land Rover (JLR) dikabarkan akan memangkas 4.000 pekerja. Produsen otomotif asal Inggris itu dinilai mengalami kesulitan menghadapi persaingan dengan pabrikan China, tarif AS dan transisi menuju kendaraan listrik.

Diberitakan BBC, pemangkasan ini akan dilakukan selama dua tahun ke depan. Sebagian besar akan berdampak pada kantor pusat yang berbasis di Inggris.

CEO Jaguar Land Rover, PB Balaji, mengatakan, pihaknya berkomitmen untuk mendukung semua pihak dengan kepedulian, keadilan, dan rasa hormat selama proses pengurangan karyawan ini berlangsung.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Industri otomotif menghadapi tantangan besar, mulai dari perubahan teknologi di tengah persaingan ketat hingga ketidakpastian geopolitik yang terus berlanjut," katanya.

JLR berharap dapat melakukan pengurangan karyawan melalui skema sukarela--dengan periode pendaftaran yang dibuka hingga 4 Oktober. Karyawan yang terdampak akan menerima pemberitahuan melalui email dalam beberapa hari mendatang.

Langkah pengurangan karyawan ini dilakukan sebagai upaya untuk menghemat biaya sebesar £1,7 miliar dalam dua tahun ke depan.

BBC melaporkan, Jaguar Land Rover kehilangan pangsa pasar akibat persaingan dengan perusahaan asal China. Awalnya, China dipandang JLR sebagai pasar untuk pertumbuhan, bukan sebagai sumber persaingan.

Selain itu, kebijakan tarif yang ditetapkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga merugikan perusahaan ini. Apalagi, Jaguar Land Rover tidak memiliki pabrik di AS.

Masalah yang dialami Jaguar Land Rover diperparah oleh serangan siber tahun lalu. Hal itu memaksa perusahaan untuk menghentikan produksi selama lebih dari sebulan.

Dalam laporan kinerja keuangan untuk tahun fiskal yang berakhir pada bulan Maret, JLR menyebutkan bahwa tarif AS dan serangan siber merupakan penyebab utama penurunan penjualan sebesar seperlima, yakni menjadi £22,9 miliar dari £29 miliar pada periode sebelumnya.

(rgr/dry)