Liputan6.com, Washington - Indonesia terus memperkuat perannya sebagai salah satu aktor penting dalam diplomasi kemanusiaan global melalui komitmen berkelanjutan dalam membantu masyarakat Palestina, khususnya di Gaza. Di tengah situasi kemanusiaan yang masih memprihatinkan, bantuan dari pemerintah bersama masyarakat Indonesia terus disalurkan secara konsisten, menjangkau warga yang paling membutuhkan.

Komitmen tersebut kembali mengemuka dalam pertemuan Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat Indroyono Soesilo dengan Presiden American Near East Refugee Aid (Anera), Sean Carroll, di Washington D.C. pada 17 Juli 2026 lalu.

Dalam pertemuan itu, Sean Carroll menyampaikan apresiasi atas kontribusi Indonesia. Anera dipercaya menjadi mitra penyalur bantuan kemanusiaan Indonesia yang diterima dari berbagai lembaga internasional, antara lain International Labour Organization (ILO), United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East (UNRWA), serta World Food Programme (WFP).

Sejak Oktober 2023 hingga Juni 2026, Indonesia telah mengirimkan lebih dari 2.630 ton bantuan kemanusiaan ke Gaza. Bantuan tersebut meliputi kebutuhan dasar berupa bahan pangan, perlengkapan medis, hingga fasilitas sanitasi. Salah satu misi yang menjadi perhatian dunia adalah operasi airdrop oleh TNI Angkatan Udara menggunakan pesawat C-130 Hercules yang berhasil menyalurkan 91,4 ton bantuan secara langsung ke wilayah terdampak.

Dukungan terhadap Palestina juga datang dari masyarakat Indonesia melalui donasi yang dihimpun oleh berbagai organisasi, seperti BAZNAS, Palang Merah Indonesia (PMI), Dompet Dhuafa, dan Kitabisa. Sinergi antara pemerintah dan masyarakat tersebut menjadi bukti nyata kuatnya solidaritas nasional dalam merespons krisis kemanusiaan global.

Di sektor kesehatan, Indonesia turut menunjukkan kontribusi nyata melalui penugasan Emergency Medical Team yang tergabung dalam Satgas Patriot Husada oleh Mabes TNI sejak September 2024. Tim tersebut bertugas memberikan layanan medis di Kapal Rumah Sakit Terapung milik Uni Emirat Arab bagi korban luka dan masyarakat sipil di Gaza. Pada April 2026, gelombang kelima tim kembali diberangkatkan dengan kekuatan 25 tenaga medis profesional.