Disdikbud Kutim kembali terapkan pembelajaran daring dampak karhutla - ANTARA News Kalimantan Timur
Sangatta, Kaltim (ANTARA) - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kutai Timur (Disdikbud Kutim), Kalimantan Timur, kembali menerapkan pembelajaran secara daring setelah kualitas udara di wilayah tersebut memburuk sebagai dampak asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Disdikbud Kutim Mulyono mengatakan, kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau daring diberlakukan mulai hari ini, Senin (5/10), setelah hasil pemantauan Dinas Kesehatan menunjukkan kondisi kualitas udara memburuk selama tiga hari terakhir dan berpotensi membahayakan kesehatan.
"Sehubungan dengan data dari dinas kesehatan terkait kualitas udara yang selama tiga hari terakhir bisa membahayakan kesehatan, maka terhitung sejak Senin, 5 Oktober 2026 kembali diberlakukan PJJ sampai dengan pemberitahuan selanjutnya," kata Mulyono di Sangatta, Senin.
Kebijakan tersebut merupakan langkah antisipasi untuk melindungi peserta didik, guru, dan tenaga kependidikan dari paparan udara tercemar, sekaligus memastikan proses pendidikan tetap berlangsung, meski kegiatan belajar tidak dilakukan di ruang kelas.
Disdikbud Kutim pun segera menerbitkan surat edaran resmi sebagai tindak lanjut kebijakan tersebut. Satuan pendidikan diminta menyesuaikan kegiatan belajar dengan kondisi dan sarana yang tersedia agar pembelajaran tetap berjalan dari rumah.
Keputusan itu diambil setelah sebelumnya mayoritas sekolah di Kutim kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka mulai 29 September 2026.
Saat itu, hanya sekolah di Kecamatan Bengalon, Busang, dan Kecamatan Muara Wahau yang masih menerapkan PJJ, karena kondisi udara belum memungkinkan untuk kegiatan belajar langsung.
Namun, perkembangan kualitas udara kembali menjadi perhatian, karena data pemantauan menunjukkan sebagian besar hasil pengukuran di sejumlah titik melampaui baku mutu, sehingga pemerintah kembali menyesuaikan pola pembelajaran dengan kondisi lingkungan.
"Terdapat 299 dari 462 atau 64 persen hasil pengukuran oleh 21 puskemas, kualitas udaranya melampaui baku mutu. Puskesmas Telen dengan partikulat tertinggi dengan PM10 yang mencapai 2.360 mikrogram per meter kubik," katanya.
Ia kembali menegaskan bahwa pembelajaran daring bersifat sementara, sehingga pihaknya akan melakukan evaluasi mengikuti perkembangan kualitas udara serta rekomendasi dari dinas kesehatan setempat.
Pengalihan pembelajaran ke sistem daring diharapkan dapat mengurangi aktivitas anak-anak di luar rumah selama kualitas udara belum aman., sehingga orang tua juga diharapkan membantu memastikan kegiatan belajar tetap berlangsung selama kebijakan tersebut diterapkan.
Pewarta: M.Ghofar
Editor : Rahmad
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.