Disperindag Sumbar pantau harga sembako antisipasi kenaikan harga
Padang (ANTARA) - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumatera Barat (Sumbar) melakukan pemantauan harga bahan pokok secara harian di sejumlah daerah sebagai upaya mengantisipasi perubahan harga yang cukup signifikan di pasaran.
"Perkembangan harga komoditas terus kami ikuti dari waktu ke waktu untuk melihat kondisi di lapangan. Dengan informasi tersebut, kami bisa lebih cepat mengetahui jika ada pergerakan harga yang perlu mendapat perhatian," kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumatera Barat Novrial di Padang, Senin.
Ia mengatakan pemantauan dilakukan untuk mengetahui perkembangan harga komoditas sekaligus mengidentifikasi faktor yang menyebabkan terjadinya kenaikan maupun penurunan harga.
"Setiap ada perubahan harga yang cukup mencolok, kami langsung berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota untuk mencari tahu kondisi di lapangan. Dari situ bisa diketahui apakah perubahannya berkaitan dengan pasokan, distribusi, atau faktor lainnya," ujarnya.
Ia menyatakan jika persoalan berada pada sisi perdagangan di pasar, pemerintah dapat melakukan langkah pengawasan dan operasi pasar untuk memastikan tidak terjadi penahanan atau penimbunan stok yang berpotensi memicu kenaikan harga.
Ia menyebut salah satunya yaitu kenaikan harga cabai rawit saat ini dipengaruhi penurunan produksi dan terganggunya distribusi akibat kondisi kabut asap dalam beberapa waktu terakhir.
"Beberapa faktor bisa menjelaskan pergerakan harga cabai rawit saat ini. Kondisi kabut asap tidak hanya berpengaruh terhadap tanaman, tetapi juga aktivitas petani dan pengiriman dari daerah penghasil. Jika pasokan yang masuk ke pasar berkurang, harga biasanya ikut bergerak naik," kata dia.
Ia menyatakan kondisi tersebut berpotensi mengurangi pasokan cabai rawit yang masuk ke pasar. Gangguan juga dapat terjadi pada sisi distribusi apabila petani atau pelaku angkutan mengurangi aktivitas pengiriman dari daerah sentra produksi.
Menurut dia, masyarakat Sumbar tetap membeli cabai meskipun terjadi kenaikan harga, tetapi biasanya menyesuaikan jumlah pembelian.
"Kalau harga naik, masyarakat tetap membeli, tetapi kemungkinan kuantitasnya yang dikurangi. Untuk cabai rawit, tingkat konsumsinya juga tidak sebesar cabai merah dan cabai hijau yang penggunaannya lebih banyak dalam kebutuhan rumah tangga," kata dia.
Ia mengatakan pemerintah daerah juga menggelar pasar murah sebagai salah satu bentuk intervensi dan sarana memberikan informasi kepada masyarakat mengenai harga komoditas yang dinilai wajar.
"Pasar murah memang tidak serta-merta menyelesaikan persoalan harga, tetapi juga menjadi sarana untuk memberikan gambaran kepada masyarakat mengenai harga komoditas yang ideal pada saat itu," ujarnya.