Jangan sampai masyarakat terus diminta berobat ketika sakit, sementara sumber pencemar udara tidak ditangani secara serius.

Surabaya (ANTARA) - Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Timur Deni Wicaksono mendesak pemerintah mengendalikan pencemaran udara menyusul lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah tersebut yang mencapai 212.914 kasus pada Agustus 2026.

“Lonjakan kasus ISPA ini harus menjadi alarm bagi pemerintah daerah. Penanganannya tidak bisa hanya bertumpu pada rumah sakit dan pengobatan. Pencegahan harus diperkuat, termasuk pengendalian pencemaran udara, pengawasan sumber emisi, serta perlindungan masyarakat rentan,” kata Deni di Surabaya, Minggu.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Jawa Timur, jumlah kasus ISPA pada Agustus 2026 menjadi yang tertinggi sepanjang tahun ini. Sementara itu, rata-rata kasus ISPA sepanjang 2026 tercatat mencapai 151.750 kasus per bulan.

Deni menyebut lima wilayah dengan laporan kasus ISPA tertinggi, yakni Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Lamongan, serta Kota dan Kabupaten Malang.

Menurut dia, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius karena bertepatan dengan kemarau kering. 

Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan 75,7 persen zona musim di Jawa Timur mengalami curah hujan di bawah normal.

Minimnya hujan dinilai memperburuk kualitas udara karena debu jalanan, emisi kendaraan, asap industri, dan pembakaran terbuka berpotensi meningkatkan pencemaran.

“Jangan sampai masyarakat terus diminta berobat ketika sakit, sementara sumber pencemar udara tidak ditangani secara serius,” ujarnya.

Selain pencegahan, Deni meminta Dinas Kesehatan Jatim memantau keterisian tempat tidur rumah sakit secara berkala. 

Di RSUD dr. Darsono, Kabupaten Pacitan, tingkat keterisian tempat tidur pada Oktober 2026 mencapai 88 persen atau 172 dari total 196 tempat tidur.

Ia juga mendorong penerapan sistem peringatan dini terintegrasi yang menggabungkan data kualitas udara, prakiraan cuaca, titik panas, dan tren kasus ISPA. 

Informasi tersebut perlu dibuka kepada publik agar masyarakat, terutama anak-anak, lansia, dan kelompok rentan, dapat mengantisipasi risiko kesehatan.

Pewarta: Faizal Falakki
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.