DPRD Kota Semarang usulkan adanya layanan psikolog untuk Sekolah Rakyat
DPRD Kota Semarang usulkan adanya layanan psikolog untuk Sekolah Rakyat
Kamis, 16 Juli 2026 21:32 WIB
Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang Mualim, saat meninjau Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kota Semarang, Kamis (16/7/2026). ANTARA/Zuhdiar Laeis
Semarang (ANTARA) - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang mengusulkan adanya layanan psikologi di Sekolah Rakyat untuk memfasilitasi layanan psikologi bagi anak-anak yang tinggal dalam sistem asrama tersebut.
Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang Mualim di Semarang, Kamis, mengatakan bahwa mental anak-anak, terutama siswa SD dan SMP mungkin belum terbiasa terpisah dengan orang tua dan keluarganya.
"Yang PR, bagi anak-anak yang namanya meninggalkan orang tua, ini kan penting ya. Mentalnya sudah siap belum?" katanya saat meninjau Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kota Semarang di wilayah Rowosari.
Dalam tinjauan itu, ia melihat ada siswa yang menangis dimungkinkan karena teringat dengan saudaranya atau orang tuanya di rumah.
"Dengan kondisi psikis ini kan butuh membutuhkan seorang psikolog juga. Ya, jadi nangis karena apa? Kita kan belum tahu, hanya tahunya ingat rumah. ini yang perlu harus digali," katanya.
Ia juga melihat masih adanya kekurangan guru pengampu, sebab dengan siswa yang mencapai 270 siswa untuk jenjang SD, SMP, dan SMA hanya memiliki sekitar 20 guru.
"Nah, ini perlu ada penambahan. Kemudian, wali asuh, ini juga masih terbatas. Ini harus secepatnya juga dipenuhi. Bagaimana caranya, apakah koordinasi dengan pemerintah daerah setempat atau langsung ke Kementerian Sosial," katanya.
Selebihnya, ia mengapresiasi Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kota Semarang yang baru saja menerima 270 siswa baru untuk jenjang SD, SMP, dan SMA.
Menurut dia, bangunan sekolah sudah bagus, fasilitas sudah mencukupi, dan konsep yang dijalankan juga bagus karena menerima siswa dari kalangan masyarakat tidak mampu.
"Orang yang tidak mampu sama sekali sekolah dibiayai oleh negara. Benar-benar dibiayai dari sampai sekolahnya, makannya. Bahkan, nanti kerja pun sampai dicarikan," katanya.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kota Semarang Ridho Irwanto menyebutkan jumlah siswa tahun ajaran baru ini masing-masing 90 orang untuk SD, SMP, dan SMA.
"Untuk (layanan) psikologi, kami memang bekerja sama dengan Unika Soegijapranata Semarang. Kalau psikolog sifatnya insidental. Juga ada yang 'stand by'," katanya.
Mengenai kekurangan guru, ia mengakui setidaknya ada lima orang, yakni tiga guru SD, satu guru kesenian, dan satu guru agama, tetapi sudah dibantu oleh Dinas Pendidikan Kota Semarang.
Kalau adanya siswa yang menangis, kata dia, kemungkinan karena masih dalam tahap penyesuaian, apalagi baru masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS).
"Karena ini minggu kritis menurut saya, dan di mana anak kebiasaan yang sebelumnya, di sini pasti 'homesick', kangen dengan rumah. Ini proses yang memang harus perlahan dan butuh 'support' tidak hanya dari sekolah, tapi orang tua juga," katanya.
Baca juga: Semarang permudah warga akses obat lewat kehadiran "Pharma City"
Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor:
Heru Suyitno
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.