Pontianak (ANTARA) - Guru Matematika SMA Negeri 1 Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Edi Sukendri, memanfaatkan siaran langsung TikTok untuk menghadirkan pembelajaran matematika yang interaktif dan menyenangkan. 

Inovasi tersebut menjadi alternatif pembelajaran jarak jauh saat kabut asap mengganggu kegiatan belajar mengajar dan siswa harus belajar dari rumah.

"Belajar matematika itu tidak hanya menulis kotak-kotak soal, tetapi juga bisa melalui permainan. Menyampaikan matematika harus menyenangkan supaya siswa senang dengan matematika," kata Edi saat ditemui di Pontianak, Kamis.

Edi telah mengabdi di SMA Negeri 1 Sungai Ambawang sejak 1997. Ia mengungkapkan bahwa keinginannya untuk menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan berawal dari pengamatannya terhadap antusiasme siswa saat mengikuti pelajaran olahraga. 

Ia melihat siswa lebih bersemangat dan menunjukkan wajah gembira ketika berolahraga, berbeda dengan suasana saat belajar matematika. Pengalaman itu mendorongnya mencari tahu pendekatan yang digunakan guru olahraga untuk membangun antusiasme siswa, kemudian menerapkannya dalam pembelajaran matematika.

Edi mengakui, sekolah tempatnya mengajar berada di wilayah peralihan antara perkotaan dan pedesaan sehingga memiliki tantangan tersendiri dalam menarik minat belajar siswa. 

Menurut dia, sebagian siswa dengan kemampuan akademik yang baik cenderung memilih sekolah di perkotaan. Kondisi tersebut mendorongnya merancang model pembelajaran berbasis permainan agar matematika lebih menarik dan mudah dipahami.

"Guru yang harus dibenahi, bukan siswanya. Kita harus mencari cara agar siswa senang dengan matematika," ujar Edi mengenai pendekatan yang diterapkannya selama hampir tiga dekade mengajar.

Pengalaman mengajar daring saat pandemi COVID-19 melalui Google Classroom dan Google Meet menjadi bekal Edi ketika pembelajaran jarak jauh kembali diterapkan akibat kabut asap. Namun, keterbatasan jumlah siswa yang mengikuti pembelajaran melalui kedua platform tersebut mendorongnya mencari alternatif lain. 

Ia kemudian mencoba siaran langsung TikTok karena aplikasi itu banyak digunakan oleh kalangan pelajar.

Penggunaan TikTok membuat pembelajaran dapat menjangkau lebih banyak orang, bahkan siaran Edi pernah ditonton hampir 5.000 pengguna dari berbagai daerah. Meski demikian, luasnya jangkauan penonton juga menjadi tantangan karena siswa yang menjadi sasaran utama pembelajaran berpotensi tenggelam di antara penonton umum. 

Untuk menjaga interaksi, Edi tetap mengawali kegiatan dengan mengabsen siswa dan melibatkan muridnya sebagai tamu selama siaran berlangsung.

Selain menjaga fokus pembelajaran, Edi menghadapi komentar negatif dan perundungan dari pengguna media sosial. Ia mengaku terkadang terpancing emosi, tetapi berusaha menanggapinya dengan humor agar suasana tetap kondusif. 

Penugasan juga dilakukan dengan meminta siswa mengerjakan soal dan membahas jawaban melalui kolom komentar sehingga komunikasi antara guru dan murid tetap terjaga.

Ia pun membagikan metode pembelajarannya melalui TikTok, YouTube, Instagram, dan Facebook itu sebagai referensi bagi guru lain. 

Pewarta: Jessica Wuysang
Editor : Nurul Hayat

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.