Eks Jenderal Pakistan: Pakta Makkah tak Ada Gunanya Tanpa Iran |Republika Online
REPUBLIKA.CO.ID, ISLAMABAD -- Pakta pertahanan yang diteken Arab Saudi, Turki, dan Pakistan di Makkah pekan lalu dinilai punya kelemahan serius. Tanpa bergabungnya Iran, pakta itu dinilai tak akan efektif.
Kerangka kerja atau arsitektur keamanan regional apa pun yang tidak menyertakan Iran hanya akan bersifat kosmetik, ujar mantan komandan Frontier Corps Angkatan Darat Pakistan, Letnan Jenderal (Purn) Tariq Khan. "Tidak dilibatkannya Iran tampaknya merupakan kelemahan serius," kata Khan kepada Aljazirah terkait Kesepakatan Pertahanan Bersama Makkah.
"Sekilas, hal ini tampak sebagai upaya untuk mengisi kekosongan keamanan yang muncul akibat perubahan peran Amerika Serikat di kawasan tersebut. AS jelas telah memberikan restu dan menyetujui langkah ini—apakah mereka sedang mencari entitas otonom di kawasan ini untuk menggantikan kehadiran mereka sendiri menjelang penarikan pasukan yang akan segera terjadi?" tanya Khan.
Dengan demikian, "tidak dilibatkannya Iran—salah satu kekuatan militer utama di kawasan ini—menciptakan kontradiksi strategis yang nyata. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai kelayakan kesepakatan tersebut," ujarnya.
Sementara, Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar dan mitranya dari Iran, Abbas Araghchi, telah membahas pakta keamanan Mekkah yang baru-baru ini ditandatangani oleh Pakistan, Arab Saudi, dan Turki di Mekkah.
Kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan bahwa pembahasan tersebut berlangsung dalam percakapan telepon hari ini, dan kedua menteri "bertukar pandangan mengenai perkembangan regional dan internasional" dengan fokus pada "upaya untuk mendorong perdamaian dan stabilitas".
Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa Dar menyampaikan poin-poin utama pakta itu kepada Araghchi.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, menyatakan bahwa Mesir dapat bergabung dalam perjanjian pertahanan bersama yang penting antara Arab Saudi, Turki, dan Pakistan, yang telah ditandatangani di Mekkah pekan lalu. Bergabungnya Mesir bisa signifikan menambah perjanjian negara-negara Muslim tersebut.
Fidan menyampaikan kepada program "Editors’ Desk" milik Anadolu Agency bahwa visi Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan adalah memperluas cakupan pakta tersebut ke negara-negara lain di kawasan itu. Namun, ia menegaskan bahwa kesepakatan tersebut—yang menetapkan bahwa serangan terhadap salah satu pihak dianggap sebagai serangan terhadap ketiga pihak—hanya bersifat defensif, dan mereka tidak memiliki ambisi ekspansionis.
"Visi presiden kami adalah agar inisiatif ini tidak terbatas pada tiga negara saja, melainkan terus berkembang dan, jika perlu, merangkul semua negara di bawah payung kerja sama ini," ujar Fidan, Sabtu.