Jakarta (ANTARA) - Seorang kawan mengirimi saya tautan artikel. Dia bertanya apakah media boleh menerbitkan tulisan yang "patut diduga" tidak dibuat sendiri oleh penulisnya. Saya urung membalasnya dengan ikon tertawa, karena setelah dibaca lagi, dia rupanya bertanya dengan nada seriosa.

Pertanyaan itu tak langsung saya jawab. Selain bingung mau balas apa, saya juga perlu membaca artikel itu sampai habis. Kalimat per kalimat, alinea demi alinea — biar saya tidak dituduh terlalu cepat menyimpulkan.

Sebetulnya saya ingin mengutip satu dua kalimat itu di sini, tetapi tak elok rasanya mengomentari tulisan orang lain. Jadi, saya akan memakai contoh yang strukturnya serupa dengan kalimat dalam tulisan itu.

"Ketika seseorang lupa membawa payung, ia bukan sekadar melakukan kelalaian kecil, melainkan sedang berhadapan dengan konsekuensi dari keputusan yang tidak disiapkan secara matang."

Kalimat itu sebetulnya cuma mau mengatakan satu hal: lupa membawa payung. Namun, hal sesimpel itu rupanya perlu dibuat njelimet dengan hubungan sebab-akibat dan "bukan sekadar ini, melainkan itu". Insiden lupa membawa payung akhirnya terkesan seperti rencana penting yang gagal dieksekusi karena kelalaian manusia.

Saya beri satu contoh kalimat lain yang dipakai sebagai penutup. "Pada akhirnya, kehujanan mengajarkan kita bahwa setiap kelalaian, sekecil apa pun, selalu membawa konsekuensi."

Inikah yang dipermasalahkan? Saya kira bukan.

Tak ada yang salah jika seorang penulis menggunakan kalimat yang kompleks, apalagi jika hal yang ingin disampaikannya memang memerlukan kalimat seperti itu.

Dari kedua contoh kalimat di atas, pembaca mungkin bertanya-tanya kenapa hal yang sepele jadi kelihatan sulit – mirip sindiran populer terhadap birokrasi yang berbelit-belit.

Kalimat yang kompleks biasa dipakai dalam jurnalistik, misalnya untuk menjelaskan sesuatu yang jika disederhanakan bisa menimbulkan salah paham.

Persoalan remeh seperti lupa membawa payung tidak memerlukan penjelasan yang panjang. Namun, ketika seorang wartawan harus menjelaskan mengapa harga BBM tidak langsung turun setelah harga minyak mentah dunia jatuh, kalimat yang lebih kompleks bisa membantu pembaca dengan cepat memahami penyebabnya.

"Harga BBM tidak langsung turun karena bensin yang dijual saat ini dibuat dari stok minyak mentah lama yang dibeli saat harganya lebih mahal dan menggunakan nilai tukar dolar pada waktu itu."

Seorang penulis akan dihadapkan pada banyak pilihan ketika bekerja. Mana yang perlu dijelaskan, mana yang tidak; mana yang harus disampaikan apa adanya, mana yang perlu dibungkus metafora. Dia juga akan memastikan apakah kalimat yang dibuatnya membawa informasi baru atau hanya memberi kesan dipanjang-panjangkan.

Namun, jika pekerjaan itu diserahkan kepada pihak lain, atau dalam konteks saat ini, kepada kecerdasan buatan (AI), masihkah kita merasakan kehadiran manusia yang menulisnya?

Saat membaca artikel itu, jujur saja, saya merasa ada yang janggal. Banyak kalimatnya seperti disusun dengan pola yang sama. Kiasan dan personifikasi dipakai untuk menjelaskan sesuatu yang tak perlu. Tak banyak informasi baru yang saya temukan. Saya merasa artikel itu hanya mengulang isu lama dengan kemasan berbeda.

Apakah gaya penulisan seperti itu salah? Tentu saja tidak.

Cara orang menulis biasanya mirip dengan caranya berbicara. Ada yang suka langsung ke inti persoalan. Ada yang berputar-putar dulu sebelum menyampaikan maksudnya. Ada yang bicaranya pendek-pendek, ada juga yang panjang lebar. Lama kelamaan kita akan tahu bahwa itulah gaya khasnya.

Menjawab pertanyaan kawan saya itu, saya bilang selama semua fakta yang ditulis dalam artikel itu benar, tidak masalah. Barangkali penulisnya memang memilih gaya seperti itu.

Sebetulnya, sudah ada pedoman untuk urusan AI ini. Satu peraturan Dewan Pers yang dikeluarkan pada 22 Januari 2025 menempatkan AI sebagai alat bantu untuk mempermudah tugas jurnalistik, bukan menggantikan peran manusia.

Artinya, penggunaan AI tetap harus diawasi dan dikendalikan oleh manusia. Data dan informasi yang dihasilkan oleh AI harus diverifikasi dan karya jurnalistik yang memakai bantuan AI tetap menjadi tanggung jawab perusahaan pers.

Di sinilah letak masalahnya. Jika kendali harus berada di tangan manusia, apakah keputusan editorial dalam proses menulis seperti memilih diksi, ungkapan, dan struktur kalimat boleh diserahkan kepada AI?

Terus terang, gaya penulisan dalam artikel yang saya baca itu membuat saya jadi bertanya-tanya, sejauh mana manusia memegang kendali?

Jika urusan memilih kata diserahkan kepada mesin, wajar saja jika pembaca merasakan adanya kejanggalan. Satu dua paragraf mungkin belum terasa, tetapi ketika pola yang sama – seperti ditunjukkan oleh contoh kalimat — muncul berulang-ulang dalam tulisan, kejanggalannya sulit diabaikan.

Manusia juga punya pola. Kita menyebutnya kebiasaan. Hanya saja, manusia terkadang menyimpang dari kebiasaannya dalam situasi tertentu.

Seorang penulis yang suka memakai kalimat panjang bisa tiba-tiba membuat kalimat pendek karena "dipaksa" oleh konteks atau ada alasan personal yang membuatnya begitu.

AI juga bisa menyimpang dari pola, tetapi tidak punya alasan pribadi untuk melakukannya. Ia hanya mengikuti instruksi dengan pola yang diberikan kepadanya.

Karena penasaran, saya bertanya kepada AI soal pola kalimatnya yang suka menunjukkan hubungan sebab-akibat, menjelaskan hal-hal yang sederhana, dan memakai retorika. Saya kutip apa adanya jawaban AI dalam paragraf berikut.

"Karena pola seperti itu sangat 'nyaman' bagi model bahasa. Bukan karena saya punya selera pribadi, tetapi karena pola tersebut sering menjadi bentuk yang efektif secara statistik untuk menghasilkan tulisan yang terdengar lengkap, bernas, dan persuasif."

Frasa "secara statistik" itu membuat saya jadi kepikiran. Jangan-jangan, itulah penyebabnya.

Statistik berkaitan dengan angka. Kata "sering" pada jawaban AI itu merujuk pada pola kalimat yang peluang kemunculannya lebih besar. Jika sebuah kalimat disusun berdasarkan angka, bukan pikiran manusia, sangat wajar jika kalimat itu terasa aneh.

Jadi, ada yang lebih penting daripada pertanyaan kawan saya itu. Jika sebagian besar tulisan dibuat dengan mesin, pantaskah nama manusia dicantumkan sebagai penulisnya?

Editor: Masuki M Astro

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.