Saham-saham sektor kesehatan terpantau kompak menguat pada pembukaan perdagangan Senin (7/9). Analis menilai penguatan tersebut dipicu sentimen kebutuhan darurat atau emergency akibat bencana alam yang tengah melanda Indonesia, termasuk erupsi dan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Namun, analis mengingatkan investor untuk mewaspadai risiko yang tinggi karena penguatan saham kesehatan saat ini lebih didorong sentimen jangka pendek. Kondisi tersebut membuat harga saham berpotensi bergerak volatil mengikuti perkembangan bencana dan kebutuhan masyarakat.

Tim Riset BRI Danareksa Sekuritas mengatakan, sektor kesehatan menjadi salah satu sektor yang mencuri perhatian pada awal perdagangan hari ini, di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak erupsi Gunung Anak Krakatau dan sebaran abu vulkanik.

Paparan abu vulkanik berpotensi meningkatkan risiko gangguan pernapasan dan iritasi mata. Kondisi tersebut dapat mendorong peningkatan kebutuhan terhadap masker, obat-obatan untuk gangguan saluran pernapasan, serta produk kesehatan lainnya.

"Sentimen tersebut berpotensi menjadi katalis positif jangka pendek bagi emiten healthcare, khususnya perusahaan dengan eksposur pada produk masker, obat pernapasan dan produk kesehatan terkait," kata BRI Danareksa Sekuritas dikutip dari risetnya, Senin (7/9).

Sejumlah emiten yang berpotensi mendapat sentimen tersebut antara lain PT Hetzer Medical Indonesia Tbk (MEDS), PT Multi Medika Internasional Tbk (MMIX), PT Jayamas Medica Industri Tbk (OMED), dan PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA). Berikutnya ada PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Indofarma Tbk (INAF), PT Pyridam Farma Tbk (PYFA), PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO), PT Soho Global Health Tbk (SOHO), PT Phapros Tbk (PEHA), PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA), hingga PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO).

"Kami melihat sentimen ini lebih bersifat short term catalyst, dengan perkembangan erupsi dan luas sebaran abu menjadi faktor utama yang perlu dicermati," tulis BRI Danareksa.

Menurut riset tersebut, konfirmasi volume perdagangan dan keberlanjutan momentum masih diperlukan untuk melihat potensi penguatan lebih lanjut pada sektor kesehatan.

Sementara itu Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata mengatakan, kenaikan sejumlah saham berkaitan dengan kebutuhan emergency akibat bencana alam. Menurut dia, kebutuhan tersebut mencakup berbagai produk kesehatan, mulai dari obat-obatan hingga masker dan suplemen untuk menjaga daya tahan tubuh.

"Yang naik adalah berkaitan dengan keperluan emergency terkait bencana alam," ujar Liza.

Ia menilai emiten seperti OMED berpotensi mendapat sentimen dari meningkatnya kebutuhan obat-obatan. Sementara itu, emiten yang memiliki produk masker juga dapat terdorong oleh meningkatnya paparan abu vulkanik.

Untuk produk suplemen, Liza melihat emiten seperti SIDO dan KLBF berpotensi mendapat sentimen positif. Adapun saham rumah sakit seperti SILO, PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), dan PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) juga dinilai berpotensi mendapat perhatian apabila terjadi peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

"Intinya, dalam situasi force majeure seperti ini, seperti zaman Covid, kita tidak tahu kapan bencana alam akan berakhir," ujar Liza.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat investor perlu mencermati perkembangan bencana sebelum mengambil keputusan investasi. Ia juga menilai keputusan untuk mengambil keuntungan atau taking profit akan sangat bergantung pada strategi dan toleransi risiko masing-masing investor.

Pada perdagangan pukul 09.51 WIB, saham MEDS melonjak 30,56% ke level Rp 94. Saham PYFA juga melesat 6,52% menjadi Rp 294, sedangkan PT Cipta Sarana Media Tbk (DKHH) tumbuh 14,71% ke level Rp 78.

Sementara itu, saham KLBF naik 2,58% ke level Rp 795. Saham PT Kimia Farma Tbk (KAEF) melesat 15,91% menjadi Rp 510, sedangkan SILO bertambah 3,27% ke level Rp 2.210.

Penguatan tersebut menunjukkan pasar merespons potensi peningkatan kebutuhan produk dan layanan kesehatan akibat bencana. Namun, investor tetap perlu mencermati apakah kenaikan tersebut didukung peningkatan volume transaksi dan berlanjut setelah sentimen bencana mereda.

Perkembangan Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan intensitas dan sebaran abu vulkanik dari letusan Gunung Anak Krakatau (GAK) pada Senin (7/9) pagi, belum berubah signifikan dari pengamatan-pengamatan sebelumnya.

Abu vulkanik diperkirakan menyebar pada permukaan hingga ketinggian 15.000 ft (4,5 kilometer) dengan arah pergerakan menuju Barat, berkecepatan kurang lebih 15 knot atau 28 kilometer per jam. Sejumlah wilayah Jawa dan Sumatra masih akan terdampak.

“Wilayah potensi terdampak: sebagian Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Lampung, Bengkulu, Sumatra Selatan, Selat Sunda, Samudera Hindia di sebelah barat Bengkulu-Lampung-Banten,” demikian dikutip dari unggahan Instagram resmi BMKG, Senin (7/9). 

Per pukul 07.00 WIB, BMKG mengidentifikasi pergerakan abu vulkanik terlihat menjauhi puncak GAK, pada lapisan ketinggian dan arah sebaran yang berbeda. Pada lapisan rendah atau permukaan hingga ketinggian 15.000 ft, abu vulkanik bergerak ke arah tenggara hingga barat laut. Abu vulkanik menutupi sebagian Jakarta, Banten, Lampung, Jawa Barat, juga wilayah perairan di sekitarnya.

“Pada ketinggian ini, sebaran abu berpotensi memengaruhi kualitas udara dan jarak pandang di wilayah terdampak,” demikian dikutip.

Sementara itu, sebaran abu vulkanik di lapisan tinggi atau dari permukaan hingga ketinggian 50.000 ft (15,24 kilometer), terlihat bergerak ke arah barat daya hingga barat. Ini mencakup Samudera Hindia di sebelah barat daya dan barat dari Bengkulu, Lampung, dan Banten, menjauhi wilayah Indonesia.