Gala dinner ACQUIN: Rektor UIN Walisongo tegaskan akreditasi bukan sekadar lencana birokrasi

Selasa, 14 Juli 2026 10:25 WIB

Image Print

Gala Dinner penyambutan delegasi asesor ACQUIN (Jerman) yang digelar secara sederhana di Gradhika Bhakti Praja (12/7/2026). (ANTARA/HO-UIN Walisongo Semarang)

Semarang (ANTARA) - Kehangatan tradisi Jawa dan semangat internasionalisasi menyatu dalam acara Gala Dinner penyambutan delegasi asesor ACQUIN (Jerman) yang digelar secara sederhana di Gradhika Bhakti Praja (12/7/2026). Jamuan makan malam resmi ini turut dihadiri oleh Kepala Biro Organisasi, Otonomi Daerah, dan Kerja Sama Setda Provinsi Jawa Tengah, Drs. Edi Kiswanto, M.AP., yang mewakili Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk menyambut langsung para tamu kehormatan dari Eropa tersebut.

Dalam atmosfer keakraban, Rektor UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Musahadi, M.Ag., menyampaikan pidato selamat datang yang impresif. Beliau secara khusus menyapa jajaran project manager dan perwakilan ACQUIN yang hadir, mulai dari Mr. Robert Råback, Ms. Kristina Beckermann, Ms. Elisa García Knief, hingga Hendy Santosa, PhD selaku perwakilan ACQUIN di Indonesia.

Rektor menegaskan bahwa kehadiran para asesor di Kota Semarang—sebuah kota pelabuhan bersejarah tempat bertemunya spiritualitas Islam mendalam dan keanggunan tradisi dalam harmoni toleransi—merupakan sebuah kehormatan yang luar biasa.
Bukan Ritual Administratif, Melainkan Komitmen Mutu

Di hadapan para asesor dan seluruh jajaran pimpinan universitas, Prof. Musahadi memberikan pandangan filosofis mengenai esensi dari proses akreditasi internasional ini. Beliau menegaskan bahwa UIN Walisongo Semarang tidak melihat penilaian ini sebagai sebuah formalitas di atas kertas, melainkan sebagai komitmen nyata untuk terus bertransformasi menuju standar pendidikan terbaik.

“Bagi kami, akreditasi internasional ini bukan sekadar lencana birokrasi atau ritual administratif belaka. Kami memandangnya sebagai sebuah langkah positif yang mendalam untuk menunjukkan komitmen konkret UIN Walisongo Semarang dalam melakukan perbaikan berkelanjutan, yang secara khusus didasarkan pada standar Eropa yang ketat. Oleh karena itu, kami menyambut proses ini dengan semangat kerendahan hati dan keterbukaan,” tegas Prof. Musahadi.

Komitmen mutu ini sejalan dengan rekam jejak impresif UIN Walisongo Semarang yang telah meraih akreditasi institusi “Unggul” dari BAN-PT sejak tahun 2024, menaungi 9 fakultas dan 1 pascasarjana, serta telah melahirkan lebih dari 57.000 alumni yang berkiprah luas.

Visitasi terhadap 38 program studi sekaligus pada tahun 2026 ini pun tercatat sebagai tonggak sejarah internasionalisasi terbesar sepanjang berdirinya universitas, demi mengejar visi menjadi Leading Research Islamic University berbasis Unity of Sciences pada tahun 2038.
Membedah ‘DNA Intelektual’ dan Keunggulan Kampus Hijau

Lebih lanjut, Rektor memaparkan lima distingsi akademik utama yang menjadi identitas dan kekuatan UIN Walisongo Semarang di hadapan dunia. Distingsi pertama dan yang paling mendasar adalah paradigma Unity of Sciences (Kesatuan Ilmu) yang menjadi ‘DNA Intelektual’ kampus, di mana UIN Walisongo Semarang berhasil meruntuhkan dinding pembatas artifisial antara ilmu keagamaan Islam dan ilmu sains empiris modern.

Keunggulan kedua terletak pada bidang Astronomi Islam (Ilmu Falak). UIN Walisongo Semarang bangga menjadi rumah bagi program Ilmu Falak paling komprehensif di Indonesia, mulai dari jenjang sarjana hingga doktoral. Kekuatan akademik ini ditopang oleh keberadaan Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo Semarang yang merupakan planetarium universitas terbesar ketiga di dunia, di mana para delegasi ACQUIN juga telah menikmati pertunjukan edukatif di sana pada siang harinya.

Selain itu, Prof. Musahadi juga mengenalkan Walisongo Halal Center sebagai motor penggerak utama ekosistem halal di Indonesia, serta Walisongo Mediation Center (WMC) yang berfokus pada harmoni sosial dan menjadi institusi mediasi berbasis universitas pertama yang terakreditasi resmi oleh Mahkamah Agung Republik Indonesia.

Terakhir, beliau menegaskan bahwa riset di UIN Walisongo Semarang tidak hanya tersimpan rapat di perpustakaan, melainkan menjadi kompas kebijakan regional melalui kolaborasi aktif bersama Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Menutup pidatonya, Prof. Musahadi mengutip filosofi budaya Jawa bahwa seorang tamu adalah sumber kehormatan dan pembawa berkah bagi tuan rumah. Ia berharap seluruh rangkaian perjalanan akademik tim asesor ACQUIN selama beberapa hari ke depan di UIN Walisongo Semarang dapat berjalan dengan sangat lancar, menstimulasi intelektual, dan membuahkan hasil yang produktif bagi kedua belah pihak.

Pewarta: Teguh/KSM
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.