Geger Pemadaman Bergilir, Listrik Padam hingga 24 Jam
Jakarta, CNBC Indonesia - Krisis listrik di Pakistan semakin memburuk. Kota Karachi, pusat ekonomi dan kota terbesar di negara tersebut, dilanda pemadaman listrik berkepanjangan.
Aktivis hak asasi manusia dan kelompok masyarakat sipil memperingatkan bahwa pemadaman listrik telah mengganggu aktivitas dasar mulai dari memasak, mandi, mencuci pakaian hingga menjaga kebersihan rumah. Hal ini pun membuat keluarga berpenghasilan rendah berada di ambang kesulitan.
Mengutip Times of India dan ANI, Rabu (2/9/2026), pemadaman terjadi di sejumlah wilayah seperti North Karachi, Nazimabad dan sebagian Gulistan-i-Jauhar. Pemadaman bahkan terjadi selama 16 hingga 24 jam.
Pilihan Redaksi
- Jujur Janggal! Trump Yakin Pertumbuhan Ekonomi AS Tembus 20%
- Mantan Presiden Lolos dari Kasus Korupsi, Pernah Diampuni Trump
- Petinggi Bank Tewas Ditikam di Keramaian, Polisi Sebut Serangan Acak
Jadwal pemadaman juga diterbitkan perusahaan listrik Karachi, K-Electric. Berdasarkan jadwal tersebut, lebih dari 615 feeder tercatat mengalami pemadaman hingga 12 jam per hari.
Pasokan air juga ikut terdampak di sejumlah kawasan karena fasilitas yang bergantung pada listrik tidak dapat beroperasi secara normal. Para aktivis menyebut pemadaman listrik yang berkepanjangan telah memberikan beban yang tidak proporsional kepada masyarakat berpenghasilan rendah.
"Pemadaman berkepanjangan semakin memperburuk kondisi masyarakat kelas pekerja," kata Qazi Khizer dari Human Rights Commission of Pakistan.
"Krisis listrik bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga berdampak terhadap kesehatan mental masyarakat," tambahnya.
Ia menilai pasokan listrik yang dapat diandalkan seharusnya dipandang sebagai layanan dasar, bukan sesuatu yang hanya bisa dinikmati sebagian masyarakat. Gangguan listrik juga berdampak pada pendidikan dan pekerjaan.
"Aktivitas masyarakat yang membutuhkan listrik untuk belajar maupun bekerja menjadi terganggu ketika pemadaman berlangsung hampir sepanjang hari," jelasnya.
Krisis tersebut kembali memunculkan pertanyaan mengenai kinerja K-Electric, perusahaan yang memasok listrik untuk Karachi. Presiden Karachi Union of Journalists Tahir Hassan Khan mempertanyakan hasil privatisasi perusahaan tersebut.
Ia menilai janji peningkatan teknologi dan operasional belum sepenuhnya terlihat dalam bentuk pasokan listrik yang lebih andal bagi masyarakat. K-Electric sebelumnya menjadi perusahaan listrik milik pemerintah sebelum diprivatisasi.
(sef/luc)
[Gambas:Video CNBC]