Gempa NTT, Gubernur: Wilayah utara Flores paling terdampak

Sabtu, 15 Agustus 2026 11:54 WIB

Image Print

Pegawai dan wisatawan asing melihat gedung Hotel Jayakarta yang rusak akibat gempa di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyatakan gempa bumi berkekuatan 6,2 magnitudo dengan kedalaman 10 km di 46 kilometer timur laut Labuan Bajo itu terjadi pada pukul 06.13 WITA setelah sebelumnya gempa berkekuatan M 7,7 juga terjadi di timur laut Mbay Nagekeo, NTT. ANTARA FOTO/Gecio Viana/sth/nz (ANTARA FOTO/GECIO VIANA)

Kupang (ANTARA) - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Melki Laka Lena mengatakan wilayah pulau Flores bagian utara paling banyak terdampak oleh gempa magnitudo 7,7 yang berpusat di Kota Mbay, Kabupaten Nagekeo.

“Gempa di Mbay dampak terbesarnya ada di wilayah utara Flores mulai dari Maumere, Ngada, Manggarai serta pusatnya di Nagekeo,” katanya.

Hal ini disampaikannya saat menggelar jumpa pers bersama intansi terkait dan sejumlah Forkompimda mulai dari TNI dan Polri di Markas Polda NTT.

Saat ini, kata dia, data pasti kerusakan serta korban jiwa akibat gempa tersebut masih dalam pendataan oleh pemerintah daerah di pulau Flores.

Melki mengatakan sejak pagi tadi dirinya sudah menghubungi sejumlah kepala daerah di Flores untuk mendata kerusakan yang terjadi di daerah masing-masing.

“Saya sudah kontak para bupati se-daratan Flores dengan kondisi yang ada saat ini, segera mengecek kondisi di masing-masing daerah untuk memberikan data kerusakan ke pemerintah provinsi,” tambah dia.

Baca juga: Gempa NTT, Gubernur: Korban meninggal bertambah

Bencana di Flores, ujar Mekli, sudah menjadi perhatian dari Presiden Prabowo, dan sejumlah menteri sudah diperintahkan untuk meninjau langsung lokasi bencana.

Pemprov NTT juga sudah diminta segera mengecek data agar distribusi bantuan bisa segera di distribusikan ke lokasi bencana.

Saat ini tambah dia, fokus pemerintah provinsi adalah mengevakuasi para korban bencana gempa ke tempat yang aman.

“Saya minta agar toko-toko supermarket di lokasi bencana bisa membagikan makanan ke para korban, dan pemerintah akan mengganti rugi, sambil menunggu distribusi bantuan,” tambah dia.

Lebih lanjut kata dia siang ini menggunakan pesawat Polri, akan meninjau langsung lokasi bencana baik di Maumere serta di beberapa lokasi di Flores.

Sementara itu, Kodam IX/Udayana membantu proses evakuasi warga Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terdampak gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7.

Baca juga: Gempa NTT, Kepala BNPB dan Menko PMK segera ke Nagekeo

“Prioritas utama kami adalah keselamatan warga, membantu proses evakuasi menuju tempat yang aman, memberikan pertolongan kepada masyarakat yang membutuhkan, serta mendukung pemerintah daerah dalam penanganan pascabencana,” kata Kapendam IX/Udayana Kolonel Inf Amrizal Nasution di Denpasar, Sabtu.

Kapendam mengatakan begitu terjadi gempa, prajurit TNI di wilayah terdampak langsung bergerak membantu masyarakat sambil terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta unsur terkait dalam penanganan dampak bencana.

Personel dari Kodim 1603/Sikka, Kodim 1612/Manggarai, Kodim 1602/Ende, serta Yonif Teritorial Pembangunan (Yon TP) 834/WM juga berada di tengah masyarakat untuk membantu proses evakuasi, mendirikan dan mendukung pos-pos pengungsian, memberikan pertolongan kesehatan kepada warga yang membutuhkan, serta mengarahkan masyarakat menuju lokasi yang lebih aman.

Keberadaan prajurit dalam proses evakuasi merupakan bagian dari komitmen TNI, khususnya Kodam IX/Udayana untuk selalu hadir dan membantu masyarakat, khususnya dalam situasi tanggap darurat bencana.

“Prajurit TNI tidak hanya bertugas dalam konteks pertahanan negara, tetapi juga memiliki tanggung jawab kemanusiaan untuk hadir ketika masyarakat membutuhkan,” ujar Kapendam.

Baca juga:
Gempa NTT, Gubernur bergerak cepat

BMKG: Gempa NTT akibat sesar naik busur belakang Flores

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Gubernur sebut wilayah utara Flores paling terdampak gempa

Pewarta : Kornelis Kaha
Editor: Yuniati Jannatun Naim
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.