Golkar dan Demokrat Mulai Panas, Prabowo Diprediksi Akan Segera Kehilangan Anggota Koalisi
Kamis, 10 September 2026, 17:38 WIB
Warta Ekonomi, Jakarta -
Koalisi Presiden Prabowo Subianto diprediksi tidak akan selamanya berada dalam kondisi solid. Hal ini menyusul sejumlah dinamika terbaru, termasuk mulai panasnya hubungan antara Partai Demokrat dan Partai Golkar.
Direktur Lingkar Madani (LIMA) Ray Rangkuti memperkirakan semakin dekatnya pemilu mendatang akan mendorong partai-partai pendukung pemerintah mengambil posisi politik masing-masing. Bahkan, Ray memprediksi salah satu anggota koalisi pemerintahan berpotensi menyatakan keluar dari koalisi pada 2028.
Baca Juga: Alarm untuk Prabowo: Rakyat Sudah Menyimpulkan Ada 'Makar Besar' Disiapkan Jokowi, Bisa Seperti 1998
“2027 mungkin mulai ketegangan di koalisi,” ujar Ray, dikutip Kamis (10/9/2026).
Menurut Ray, dinamika menuju pilpres akan membuat setiap partai dan figur politik mulai menghitung kepentingannya masing-masing. Popularitas dan elektabilitas akan menjadi faktor penting yang mendorong partai menentukan langkah.
Kondisi tersebut dinilai dapat membuat kepentingan politik partai mulai tidak sepenuhnya sejalan dengan kepentingan pemerintahan Prabowo.
Ray melihat sejumlah poros politik mulai menunjukkan aktivitas yang patut diperhatikan. Ia menyebut salah satunya sebagai Poros Solo. Poros itu sendiri dikaitkan dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
Salah satu yang disorotinya adalah pernyataan dari Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi. Selain itu, ia juga menyinggung pertemuan dari Jokowi dan Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao.
“Uniknya pertemuan itu bahkan tanpa kehadiran atau tidak melewati pertemuan resmi pemerintah, karena ketika pertemuan itu terjadi presiden sedang berada di Rusia,” ujar Ray.
Adapun Demokrat baru-baru ini cukup panas dengan Golkar. Wakil Ketua Umum Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia membaca adanya sinyal politik dari Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Ia dinilai sudah siap untuk menjadi lawan bagi Prabowo Subianto di Pilpres 2029.
Pidato yang dimaksud adalah pidato soal pengingat terhadap para pemegang kekuasaan bahwa jabatan politik bukanlah sesuatu yang dapat dimiliki selamanya.
AHY mengatakan kekuasaan merupakan amanah yang diberikan rakyat dan memiliki batas waktu. Ia menekankan bahwa prinsip tersebut harus menjadi pijakan dalam menjaga demokrasi Indonesia. Karena kekuasaan berasal dari rakyat, hak masyarakat untuk menentukan siapa yang dipilih maupun mencalonkan diri tidak boleh dihalangi.
Namun Doli menilai pernyataan politikus itu tidak hanya dapat dibaca sebagai pesan tentang demokrasi. Menurutnya, cara menyampaikan pernyataan tersebut, termasuk gestur dan posisi politiknya, memberi kesan bahwa politikus itu tengah mempersiapkan diri sebagai salah satu kandidat pada Pilpres 2029.
"Namun, dilihat dari cari penyampaian, gestur dan standing position-nya, dia seperti memberi sinyal kuat bahwa beliau siap menjadi salah seorang contender dalam pilpres mendatang," ujar Doli.
Hal itu langsung mendapatkan balasan yang pedas dari Kader Partai Demokrat Boni Jebarus. Ia mengecam keras komentar dari Ahmad Doli Kurnia.
Boni mengatakan komentar sosok itu berpotensi mengganggu soliditas koalisi pemerintahan dari Prabowo-Gibran. Ia bahkan membaca adanya gelagat upaya mengadu domba antaranggota koalisi yang tengah dilakukan oleh Golkar.
“Tidak elok jika dia melempar granat di tengah koalisi yang solid dan adem. Ini terbaca gelagat mereka yang terkesan sedang mengadu domba di antara anggota koalisi,” ujar Boni Jebarus.
Ray dengan ini tidak hanya memperkirakan ketegangan akan mulai terasa pada 2027. Setahun setelahnya, ia memprediksi dinamika tersebut dapat berkembang menjadi keputusan politik yang lebih besar.
Menurut Ray, bukan tidak mungkin salah satu partai pendukung Prabowo menyatakan keluar dari koalisi pemerintahan.
“Di 2028 akan ada anggota koalisi pak presiden itu yang menyatakan keluar dari koalisi pemerintahan,” kata Ray.
Prediksi tersebut menggambarkan potensi perubahan peta politik sebelum Pilpres 2029. Partai yang saat ini menjadi bagian dari pemerintahan bisa saja mulai mengutamakan agenda politik masing-masing ketika kontestasi semakin dekat.
Baca Juga: AHY Akui Partai Demokrat Butuh Influencer Seperti Aldi Taher: Sebetulnya Kami Ingin Terus Menyapa...
Namun Ray tidak menyebut secara spesifik partai mana yang menurutnya akan meninggalkan koalisi Prabowo.