Jakarta (ANTARA) - Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memandang tingkat BI-Rate yang saat ini tetap pada level 5,75 persen masih cukup untuk mendukung dan menjaga stabilitas di tengah era suku bunga global yang tinggi (higher for longer).

“Kita tentunya melihat, kalau saat ini, kita masih menganggapnya cukup. Karena stabilitas kita bukan hanya dengan pre-emptive daripada BI-Rate itu, tapi juga penguatan di kebijakan terkait dengan insentif biaya hedging. Di satu sisi, kita ingin mendorong pertumbuhan ekonomi karena momentumnya lagi ada,” kata Destry pada konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Rabu.

Destry mengatakan, ekonomi domestik saat ini terus bergerak ke arah yang lebih baik sehingga bank sentral Indonesia juga turut mendukung arah tersebut melalui kebijakan makroprudensial, sistem pembayaran, serta kebijakan pendukung lainnya seperti pendalaman pasar keuangan, kebijakan UMKM, dan kebijakan regional.

“Ketidakpastian global di satu sisi. Di sisi lain untuk domestik, selain stabilitas yang tentu menjadi fokus kami saat ini, tapi juga kita harus bisa membuka ruang untuk ekonomi itu masih bisa bergerak lebih maju lagi,” kata dia.

Baca juga: Gubernur BI: Pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga baik

Sementara itu, Deputi Gubernur Senior BI Aida S. Budiman menambahkan bahwa bank sentral memilih untuk tidak menaikkan BI-Rate karena dapat berdampak pada kenaikan harga-harga di domestik.

Secara keseluruhan, meski terjadi kenaikan harga minyak global, ia menilai fundamental ekonomi domestik saat ini masih cukup baik karena ditopang oleh permintaan dan konsumsi domestik serta investasi.

BI sendiri memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada dalam kisaran 4,9–5,7 persen.

“Dengan kondisi itu semua, kita ketahui kemarin PDB (Produk Domestik Bruto) kuartal I sebesar 5,61 persen, kuartal kedua 5,29 persen, dan kami masih memperkirakan 2026 ini masih pada kisaran 4,9 persen sampai 5,7 persen, itu yang kami lihat. Jadi mudah-mudahan PDB-nya masih terus terjaga,” kata Aida.

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.