Bagikan:

JAKARTA - Harga emas kembali turun di bawah 4.000 dolar AS per ons pada Kamis. Meningkatnya serangan di Timur Tengah mendorong harga minyak naik, memicu kekhawatiran inflasi, dan mengaburkan arah suku bunga Amerika Serikat.

Anadolu Agency dikutip Jumat, 17 Juli, menyebut harga emas turun 1,9 persen menjadi 3.983 dolar AS per ons hingga pukul 13.10 GMT. Harga itu kembali berada di bawah level psikologis 4.000 dolar AS per ons.

Harga perak melemah lebih dalam. Logam tersebut turun 3,6 persen menjadi 55,67 dolar AS per ons.

Tekanan terhadap perak lebih besar karena penggunaannya cukup luas dalam industri. Kenaikan biaya energi dikhawatirkan membebani kegiatan ekonomi.

Penurunan harga logam mulia terjadi setelah Amerika Serikat kembali menyerang sasaran di Iran pada Rabu. Permusuhan yang berlanjut telah mengganggu pasokan energi dan mendorong harga minyak naik tajam sepanjang pekan ini.

Presiden AS Donald Trump mengatakan Teheran memberi sinyal bersedia kembali berunding. Namun, ketidakpastian masih tinggi setelah kesepakatan damai sementara yang dicapai pada bulan lalu pada praktiknya runtuh.

BACA JUGA:


Emas biasanya menjadi pilihan aset aman ketika ketegangan geopolitik meningkat. Namun, kenaikan harga energi kali ini memicu kekhawatiran bahwa inflasi dapat kembali naik.

Inflasi yang lebih tinggi dapat membuat bank sentral AS, Federal Reserve atau The Fed, mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan mempertimbangkan kenaikan lanjutan.

Suku bunga tinggi mengurangi daya tarik emas dan perak karena kedua aset tersebut tidak memberikan imbal hasil seperti bunga.

Tekanan terhadap logam mulia sedikit tertahan oleh data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan pada pekan ini.

Harga produsen AS secara tidak terduga turun pada Juni untuk pertama kalinya dalam hampir satu tahun. Penurunan itu terutama didorong biaya energi yang lebih rendah.

Data tersebut muncul setelah inflasi konsumen AS juga tercatat lebih lemah dari perkiraan. Namun, lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah kembali mengaburkan prospek inflasi dan arah kebijakan suku bunga The Fed.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+