Ibu Pertiwi berlimpah cinta terhadap anak-anaknya

Sabtu, 25 Juli 2026 10:24 WIB

Image Print

Seorang pengunjung menyaksikan karya-karya lukisan yang dipajang pada pameran berjudul "Rendezvous" di Gedung IKM Center Kota Magelang, di kawasan kaki Gunung Tidar Kota Magelang, Selasa (21/7/2026). ANTARA/Hari Atmoko

Magelang (ANTARA) - Karya lukisan berjudul "Ibu Pertiwi" dengan takarir mengenai penghormatan visual bagi keteguhan, pengorbanan, dan cinta tanpa syarat dari Ibu Pertiwi, membalikkan narasi cinta tanah air yang lazim terdengar harus tertanam dalam diri setiap anak negeri.

Oleh perupanya, Umar Iswadi Gundul, lukisan 40x60 centimeter itu diklaim sebagai perenungan secara mendalam tentang tanah air. Dinamika kehidupan tanah air dihadirkan dalam imajinasi hasil sapuan bergejolak menggunakan warna-warna merah secara samar di atas warna putih terkesan hening di latar kanvas.

Secara gamblang, lukisan itu hendak mengajak publik membaca bahwa Ibu Pertiwi adalah "sosok" yang mencintai "anak-anak pertiwi". Ia bagaikan menantang anak-anaknya harus cerdas menanggapi cinta sang pemilik rahim.

Karya itu salah satu di antara 54 lukisan dipamerakan 35 pelukis. Pameran dengan tajuk "Rendezvous" (Janji Berjumpa) digelar para pelukis Kota dan Kabupaten Magelang yang tergabung dalam kelompok perupa bernama Gabungan Seniman Borobudur (Gasebo) di Gedung IKM Center Kota Magelang, selama 21 Juli-3 Agustus 2026.

Kegiatan yang juga dalam rangkaian peringatan 10 tahun Gasebo ini, juga ditandai dengan lokakarya melukis, sekaligus melukis on the spot diprakarsai mereka dengan peserta berasal dari berbagai kalangan masyarakat. Secara rinci, pameran berlangsung di fasilitas milik pemerintah kota setempat tersebut, diikuti 19 peserta lokakarya dan 16 pelukis Gasebo.

Oleh ketua penyelenggara acara itu yang juga seniman Gasebo, Yustinus Agus Daryanto, setiap karya lukisan yang dipamerkan, termasuk "Ibu Pertiwi", diharapkan memberikan makna, inspirasi, dan pengalaman estetik penikmatnya.

Kurun waktu pameran, akhir Juli hingga memasuki awal Agustus tahun ini, semacam hendak menghadirkan janji berjumpa dengan bulan kemerdekaan Indonesia. Bulan kemerdekaan sebagai waktu penting untuk merayakan, sekaligus merefleksikan kemerdekaan Indonesia, dengan pemaknaan baru atas peristiwa persatuan dan kesatuan Indonesia, serta kebebasan dari situasi penjajahan.

Hari Kemerdekaan Indonesia jatuh setiap 17 Agustus. Melalui situsnya, Sekretariat Kabinet telah menyampaikan tema HUT RI pada 2026, "Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur".

Biasanya, saat menjelang atau awal Agustus, masyarakat di berbagai tempat menyambut bulan kemerdekaan itu dengan bergotong royong menghias wajah lingkungan tempat tinggal, menyusun panitia perayaan peringatan hari kemerdekaan. Tabungan atau iuran bersama oleh warga selama setahun terakhir, dibongkar untuk kemeriahan perayaan tersebut.

Di tataran rakyat, perayaan tersebut dikenal juga dengan sebutan Agustusan atau dalam masyarakat Jawa sebagai Pitulasan. Pitulasan menunjuk kepada angka 17 (pitulas), yang maksudnya peringatan 17 Agustus 1945. Pada tanggal itu di Pegangsaan Timur, Jakarta, Soekarno-Hatta, atas nama Bangsa Indonesia, memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Dalam rangkaian peringatan hari kemerdekaan, biasanya masyarakat bersama-sama meluangkan waktu membersihkan kampung dan desa, mengibarkan bendera Merah Putih, memasang umbul-umbul dan instalasi seni kampung atau kompleks perumahan, serta lampu warna-warni.

Selain itu, mengadakan berbagai perlombaan dari yang bersifat serius hingga lucu-lucuan untuk semua kalangan, melakukan malam tirakatan hari kemerdekaan, dan merayakan HUT RI melalui pentas kesenian, doa bersama, dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Peringatan HUT RI, oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi disebut sebagai milik seluruh rakyat Indonesia. Berbagai rangkaian kegiatan dihadirkan masyarakat menjadi ungkapan syukur atas Ibu Pertiwi yang merdeka sebagai Indonesia selama 81 tahun.

Angka tahun itu, kurun waktu cukup panjang dengan segala catatan perjalanan sejarah kehidupan bernegara dan berbangsa yang telah tertoreh, termasuk lapisan-lapisan ketahanan nasionalisme dan patriotisme yang tertanam di sanubari antar-generasi anak pertiwi yang semakin kukuh.

Umur panjang, hingga 81 tahun Negara Kesatuan Republik Indonesia, suatu medan renungan mendalam tentang Ibu Pertiwi. Begitu pun lukisan "Ibu Pertiwi", dihadirkan seniman sebagai karya perenungan mendalam tentang tanah air sebagai tempat di mana keberanian dan ketulusan saling bertumpu.

Tumpuan tersebut berupa wajah-wajah keindonesiaan, akar-akar budaya bangsa makin kuat dan mendalam, dinamika tantangan pengurusan negara dan mereka yang diurusi, serta mungkin juga imajinasi dan harapan mulia terbarukan atas tujuan berbangsa dan bernegara.

Tentu saja, hal tersebut dengan tetap bertumpu kepada warisan pergulatan dan pemikiran panjang para pendiri bangsa dalam rumusan Pancasila sebagai karya cerdas dan agung mereka tentang peradaban negeri ini. Pancasila dan Indonesia dilahirkan Ibu Pertiwi untuk mewujudkan cinta kepada anak-anaknya.

Tentang wajah Ibu Pertiwi juga terlihat dalam karya lainnya berjudul "Aku Ada Karena Engkau Ada" yang dipanjang dalam pameran di kawasan kaki Gunung Tidar di tengah Kota Magelang itu.

Lukisan lainnya dalam format terkesan sebagai penampakan muka bagian bumi yang bulat dengan aneka bentuk goresan dua warna, hitam dan putih itu, diberi keterangan terkesan gelora puitis oleh pelukisnya, Victorya Christiani Margareth, untuk menunjuk Indonesia yang bineka.

Suatu ungkapan kesadaran seakan hendak disampaikan secara mendalam melalui lukisan tersebut, bahwa Ibu Pertiwi ini bukan hanya satu suku, agama, bahasa, atau pulau. Akan tetapi, suatu pemenuhan atas janji bertemu, "Indonesia ada karena kamu ada". Demikian seniman itu menuliskan barisan terakhir takarir atas karya tersebut.

Begitu pun puisi tentang suara Ibu Pertiwi dengan judul bernada pertanyaan, "Bhinneka itu Masihkan Tunggai Ika?", ditulis tiga tahun lalu yang dibacakan salah satu penyair Komunitas Lima Gunung Kabupaten Magelang Hudi Danu Wuryanto pada pembukaan pameran, malam itu.

"Doa Ibu Pertiwi dipanjatkan, memohon petunjuk dan pertolongan Sang Maha Kasih Sayang. Semoga Nusantara tetap rukun, damai, dan sejahtera. Dirangkai Bhinneka Tunggal Ika, berpayung panji-panji Merah Putih," begitu bait terakhir puisi itu dibacanya dengan sentuhan gerak teatrikal jari jemari memungut-mungut cat warna-warni mewujudkan lukisan abstrak di atas kanvas.

Karya itu seakan menjadi ungkapan Ibu Pertiwi atas keadaan terkini Bumi Indonesia yang mesti disikapi anak-anak negeri dalam kesadaran kuat menyangkut harapan masa depan jaya gemilang Indonesia.

Bisa dipastikan bahwa tidak ada anak ingin durhaka terhadap ibunya. Maka, jangan biarkan cinta Ibu Pertiwi itu bertepuk sebelah tangan.

Dengan bertekun menjalani bulan kemerdekaan, semua akan menguatkan cinta anak-anak negeri kepada Ibu Pertiwi.

Oleh M. Hari Atmoko
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.