Mengutip data Refinitiv pelemahan IHSG hari ini disebabkan oleh sektor infrastruktur yang anjlok 4,8%, kemudian disusul sektor energi yang turun 3,7%, dan sektor material dasar yang -3%.

Adapun saham-saham pemberat IHSG antara lain, PT. Bayan Resources Tbk, (BYAN), PT. Bumi Resources Minerals Tbk, (BRMS), PT. Barito Renewables Energy Tbk, (BREN), PT. Bank Central Asia Tbk, (BBCA), dan PT. Dian Swastatika Sentosa Tbk, (DSSA).

Sementara saham-saham penopang IHSG antara lain, PT. Capital Financial Indonesia Tbk, (CASA), PT. Bank of India Indonesia Tbk, (BSWD), PT. Tifico Fiber Indonesia Tbk, (TFCO), PT. United Tractors Tbk, (UNTR), dan PT. Aspirasi Hidup Indonesia Tbk, (ACES).

Hari ini sejumlah agenda dan data ekonomi juga masih membayangi pasar keuangan Indonesia, termasuk pidato Chairman The Fed Kevin Warsh di pertemuan IMF-World Bank di Bangkok, Thailand.

Berikut beberapa sentimen pasar hari ini:

1. Perkembangan Perang: Houthi Ancam Serang Bandara dan Fasilitas Minyak Arab Saudi

Kelompok Houthi di Yaman mengancam melanjutkan serangan terhadap bandara dan fasilitas minyak Arab Saudi. Ancaman ini muncul sehari setelah serangan yang dilaporkan merusak kompleks perusahaan minyak raksasa Saudi Aramco di Dhahran.

Houthi menyebut fasilitas tersebut sebagai target sah dan mengklaim serangan sebagai balasan atas gempuran Arab Saudi di Yaman. Koalisi pimpinan Saudi menyatakan telah mencegat rudal balistik yang mengarah ke Riyadh pada Rabu.

Eskalasi konflik ini mengancam ambisi Putra Mahkota Mohammed bin Salman untuk mendiversifikasi ekonomi Saudi dan mengurangi ketergantungan pada minyak. Di Yaman, meningkatnya pertempuran juga memperburuk krisis kemanusiaan dan menghambat penyaluran bantuan.

2. Inflasi AS Memanas, Dolar Mengganas

AS mengumumkan data inflasi September Rabu, kemarin.

Inflasi Amerika Serikat (AS) meningkat menjadi 3,7% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada September 2026, naik dari 3,4% pada dua bulan sebelumnya. Angka ini melampaui ekspektasi pasar sebesar 3,6%, dipicu lonjakan harga energi.

Berdasarkan data Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS), harga bensin melonjak 34,2% secara tahunan, sementara harga minyak pemanas melesat 74,2%. Secara bulanan (month-to-month/mtm), Indeks Harga Konsumen (IHK) AS naik atau inflasi 0,6%, menjadi kenaikan terbesar sejak April 2026. Harga bensin melonjak 9,1% dan menyumbang lebih dari separuh kenaikan IHK bulanan.

Tekanan juga terlihat pada inflasi inti (core CPI), yang naik menjadi 2,6% secara tahunan dari 2,4% pada Agustus. Secara bulanan, inflasi inti meningkat 0,3%, melampaui ekspektasi sebesar 0,2%.

Menyusul tingginya inflasi, indeks dolar ikut terbang. Indeks dolar pada perdagangan Rabu menyentuh 102,555. Level indeks masih berada di kisaran tertingginya sejak April2 025 atau 1,5 tahun.

Lonjakan indeks dolar ini berpotensi membuat rupiah melemah karena adanya kemungkinan outflow dari Emerging Market.

3. Surplus Dagang China Tembus US$133 Miliar, Ekspor Melonjak 36%

China mengumumkan data inflasi konsumen dan produsen hingga neraca dagang September Rabu, kemarin. Surplus perdagangan China melonjak menjadi US$133,53 miliar pada September 2026, naik tajam dari US$88,72 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Angka ini melampaui ekspektasi pasar sebesar US$118,1 miliar dan menjadi surplus terbesar kedua sepanjang sejarah.

Berdasarkan data Administrasi Umum Kepabeanan China, ekspor melonjak 36,3% secara tahunan (yoy) menjadi US$447,18 miliar.

Ekspor mobil juga meningkat tajam. Pengiriman ke Amerika Serikat (AS) melonjak 39,6%, sementara ekspor ke Uni Eropa tumbuh 25,3% dan ke negara-negara ASEAN melesat 52,3%.

Di sisi lain, impor China turut melesat 31% secara tahunan menjadi rekor US$313,66 miliar, melampaui perkiraan pasar sebesar 24,5%.

Secara kumulatif, surplus perdagangan China mencapai US$938,11 miliar sepanjang Januari-September 2026. Angka ini membuka peluang surplus tahunan kembali melampaui rekor tahun lalu sebesar US$1,2 triliun.

Membaiknya neraca dagang China terutama kenaikan impor menjadi kabar baik bagi Indonesia. China adalah mitra dagang utama Indonesia, kenaikan impor diharapkan bisa meningkatkan permintaan barang dari Indonesia.

4. Inflasi China

Inflasi China naik menjadi 0,9% secara tahunan (yoy) pada September 2026, dari 0,8% pada Agustus. Kenaikan ini didorong oleh biaya transportasi dan harga energi, meski masih di bawah ekspektasi pasar sebesar 1%.

Indeks Harga Konsumen (IHK) China naik 0,2% secara bulanan (month-on-month/MoM) pada September 2026. Sejak 1996, inflasi bulanan China rata-rata sebesar 0,14%, dengan rekor tertinggi 2,6% pada Februari 2008 dan terendah minus 1,8% pada Juni 1998.

Di sisi lain, inflasi produsen atau Producer Price Index (PPI) melonjak menjadi 5%, tertinggi sejak Juni 2022, dari 3,8% pada Agustus. Kenaikan harga bahan bakar dan biaya produksi mendorong tekanan harga di sektor industri.

5. Diskusi Chairman The Fed-IMF

Pertemuan IMF-World Bank di Bangkok, Thailand menghadirkan agenda penting pada hari ini, Kamis (15/10/2026)\yakni diskusi antara Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva, dan Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, dalam sesi Fireside Chat di Bangkok, Thailand.

Agenda utama yang patut dicermati adalah diskusi antara Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh dan Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva di Bangkok, Thailand, pada pukul 10.30 WIB. Diskusi ini berpotensi memberikan petunjuk mengenai prospek ekonomi global, tekanan inflasi, arah suku bunga AS, serta risiko utang dunia.

Pernyataan Warsh menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter The Fed, pergerakan dolar AS, imbal hasil US Treasury, dan harga emas. Bagi Indonesia, sinyal kebijakan The Fed yang lebih ketat berpotensi menekan rupiah dan memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang, sedangkan sinyal yang lebih lunak dapat mendukung aset berisiko.

6. Inflasi Produsen AS

Pada hari ini, Kamis (15/10.2026), AS akan mengumumkan data indeks harga produsen (PPI) untuk September 2026. Sebagai catatan, inflasi PPI naik 0,4% secara bulanan pada Agustus 2026, tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Kenaikan ini dipicu lonjakan harga barang, termasuk harga solar.

Secara tahunan, inflasi produsen meningkat menjadi 5,4% di Agustus 2026 dari 4,8% pada Juli, terutama didorong kenaikan biaya transportasi.