IHSG & Rupiah Bangkit, 10 Kabar Ini Bakal Menguji Nyali Investor
- Pasar keuangan RI ditutup beragam IHSG dan Rupiah menguat sementara SBN stagnan
- Wall Street ditutup kompak di zona penguatan
- PMI AS dan juga keyakinan konsumen Jepang menjadi penggerak utama pasar pada hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia berakhir beragam pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (2/10/2026). Bursa saham menguat sementara nilai tukar rupiah melemah.
Sentimen pasar kemarin masih dibayangi perkembangan konflik di Timur Tengah serta keputusan kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed).
Pasar keuangan Indonesia diharapkan kompak menguat pada perdagangan hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada perdagangan kemarin, Jumat (2/10/2026). IHSG naik 0,46% atau 27,38 poin ke level 6.036,89 pada akhir sesi.
Pada awal perdagangan, IHSG dibuka di posisi 6.018,08. Indeks sempat menguat dan menyentuh level tertinggi kemarin di 6.053,23. Namun, tekanan jual kemudian menyeret indeks turun hingga menyentuh level terendah di 5.979,98.
Mengutip data IDX, penguatan IHSG siang ini disokong oleh 319 saham yang menguat, 134 saham tak bergerak, dan 337 saham lainnya melemah.
Dari sisi aktivitas perdagangan, volume transaksi tercatat 120,68 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 12,25 triliun dan berpindah tangan 1,61 juta kali.
Adapun sektor penopang IHSG kemarin adalah energi, konsumer primer, teknologi dan finansial.
Secara spesifik, saham-saham penopang IHSG antara lain, PT. Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT. DCI Indonesia Tbk. (DCII), PT. Astra International Tbk. (ASII), PT. GOTO Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO), dan PT. Buni Resources Minerals Tbk. (BRMS).
Dari segi perdagangan foreign, terpantau di all market bursa mengalami net foreign outflow sebesar Rp 1,27 triliun sementara di pasar reguler tercatat juga mengalami net foreign outflow sebesar Rp 1,31 triliun.
Sehingga apabila dijumlah dalam kurun waktu year to date atau sejak awal tahun 2026, all market terpantau mengalami net foreign outflow sebesar Rp 81,98 triliun sementara di reguler juga terpantau net outflow sebesar 108,73 triliun.
Lanjut ke mata uang Garuda, Rupiah berhasil mengakhiri perdagangan Jumat (2/10/2026) di zona hijau terhadap dolar Amerika Serikat (AS), setelah melemah pada perdagangan sebelumnya.
Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup di level Rp17.868/US$, menguat 0,40% atau 72 poin dibandingkan penutupan Kamis (1/10/2026) di Rp17.940/US$.
Sepanjang perdagangan kemarin, rupiah dibuka di level Rp17.925/US$ dan bergerak pada rentang Rp17.850-Rp17.950/US$.
Penguatan rupiah berlangsung seiring dengan pelemahan indeks dolar AS (DXY). Indeks yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia tersebut pada pukul 15.00 WIB terpantau di posisi 101,877 melemah 0.23%.
Dolar AS melemah di tengah penantian pasar terhadap rilis data tenaga kerja Amerika Serikat, terutama non-farm payrolls (NFP) yang dijadwalkan keluar pada Jumat malam ini.
Data tersebut menjadi perhatian pasar untuk membaca kondisi pasar tenaga kerja AS sekaligus mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed).
Di tengah dinamika yang tengah terjadi, pemerintah turut menyoroti pergerakan rupiah yang dalam beberapa waktu terakhir sempat mendekati level Rp18.000/US$.
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengatakan penerbitan surat utang pemerintah di pasar global turut berperan dalam memperkuat cadangan devisa yang dapat digunakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Sementara di pasar SBN terpantau obligasi tenor 10 tahun Indonesia tidak mengalami perubahan sama sekali di level 7.159%