Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Jumat (9/10/2026) di zona hijau. HSG berada di level 6.042,85, naik 11,57 poin atau 0,19%.

Pada awal perdagangan, IHSG dibuka di posisi 6.039,01. Indeks kemudian bergerak di kisaran 6.035,38 sebagai level terendah dan 6.043,95 sebagai level tertinggi. Pergerakan tersebut menunjukkan IHSG cenderung menanjak sejak pembukaan dan bertahan di dekat level puncaknya.

Dari sisi aktivitas perdagangan, volume transaksi tercatat sebanyak 26,97 juta lot saham dengan nilai transaksi mencapai Rp189,22 miliar.

Sentimen pasar pada Jumat (9/10/2026) akan dipengaruhi perkembangan konsumsi domestik, ketahanan pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS), serta risiko harga energi global.

Kemarin, keyakinan konsumen Indonesia sedikit menurun, sementara klaim pengangguran AS kembali lebih rendah daripada perkiraan.

Hari ini, perhatian beralih pada penjualan ritel Indonesia untuk melihat keberlanjutan pemulihan belanja masyarakat.

Di dalam negeri, perkembangan APBN dan investasi hilirisasi turut menjadi perhatian terkait kebutuhan pembiayaan pemerintah serta prospek produksi dan ekspor.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan paruh waktu pada 3 November 2026. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan Timur Tengah dan kekhawatiran terhadap pasokan minyak global.

Sebelumnya, Trump sempat mempertimbangkan serangan baru terhadap Iran sebelum pemilu. Kekhawatiran eskalasi konflik mendorong harga minyak Brent naik lebih dari 4% hingga menembus US$104 per barel. Meski menunda serangan, Trump menegaskan blokade laut terhadap Iran tetap berlaku dan Teheran tidak akan diizinkan memiliki senjata nuklir.

Sentimen lainnya, berasal dari Bank Indonesia pada Kamis kemarin melaporkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) September sebesar 118,1, turun tipis dari 118,5 pada Agustus. Posisi di atas 100 menunjukkan konsumen secara keseluruhan masih optimistis, tetapi penurunannya mengindikasikan pemulihan daya beli belum sepenuhnya merata.

Selanjutnya, risalah rapat Bank Sentral Eropa (ECB) yang dirilis Kamis kemarin menunjukkan pembuat kebijakan masih melihat risiko inflasi cenderung meningkat. Ketidakpastian geopolitik, termasuk konflik AS-Iran dan perang Rusia-Ukraina, menjadi bagian dari pertimbangan terhadap prospek harga.

Meski demikian, ECB mempertahankan seluruh pilihan kebijakan dan tidak memberikan kepastian mengenai langkah suku bunga berikutnya. Suku bunga deposito berada di 2,50%, sementara suku bunga operasi pembiayaan utama sebesar 2,65%.

Risalah ini bukan keputusan suku bunga baru. Bagi pasar, pesannya menunjukkan pengetatan lanjutan belum dapat dikesampingkan, tetapi juga belum dipastikan. Perubahan ekspektasi kebijakan Eropa dapat memengaruhi euro, imbal hasil obligasi, dan selera investor terhadap aset berisiko.

Dari sisi global, Direktur Pelaksana Dana Moneter International ( IMF) Kristalina Georgieva kemarin memperingatkan bahwa harga energi berpotensi tetap tinggi meskipun perang di kawasan Teluk segera berakhir. Pemulihan produksi dan distribusi membutuhkan waktu, sementara harga minyak Brent berjangka masih mengindikasikan tekanan hingga 2027.

Georgieva menyebut harga minyak masih berada di sekitar US$100 per barel, mencerminkan risiko pasokan dan tingginya biaya transportasi. Keterbatasan penyulingan turut menekan harga bahan bakar olahan. Pasokan gas alam dari Teluk juga terganggu akibat ancaman terhadap pengiriman melalui Selat Hormuz, terutama berdampak pada Asia dan Eropa.

(rob/rob) [Gambas:Video CNBC]