Insiden Gunung Fuji dan bahaya tradisi “shitsuke” di Jepang
Sebuah insiden di Gunung Fuji baru-baru ini kembali membuka mata dunia mengenai sisi kelam penerapan disiplin keluarga di Jepang. Dilansir dari Tokyo Reporter, Jumat lalu (21/8), seorang ayah asal Nagoya meninggalkan anak laki-lakinya yang berusia 7 tahun sendirian di stasiun ke-6 Gunung Fuji pada ketinggian 2.500 meter, hanya karena anak tersebut kelelahan dan rewel saat mendaki.
Pria berusia 48 tahun itu menyuruh anaknya menunggu selama 8 jam sementara ia melanjutkan pendakian ke puncak bersama anak sulungnya. Meskipun insiden ini berakhir tanpa korban jiwa setelah staf pondok gunung menyelamatkan sang anak, peristiwa tersebut memicu kecaman luas serta menyoroti bahaya nyata hipotermia dan penyakit ketinggian (altitude sickness) yang mengintai anak-anak di wilayah pegunungan.
1. Fenomena “shitsuke” dan kasus Yamato Tanooka
Kasus di Gunung Fuji ini bukanlah kejadian tunggal, melainkan cerminan dari fenomena disiplin keras yang terkadang melampaui batas wajar di Jepang. Masyarakat mengenal konsep shitsuke (pembentukan karakter atau pengajaran kedisiplinan), namun sebagian orang tua menyalahgunakannya menjadi bentuk penelantaran berbahaya.
Kilas balik kasus tragis Yamato Tanooka pada tahun 2016, dilansir oleh BBC News (21/8), seorang bocah 7 tahun yang ditinggalkan orang tuanya di hutan beruang Hokkaido sebagai bentuk hukuman karena melempari mobil dengan batu.
Yamato bertahan hidup sendirian selama 6 hari di pangkalan militer terlantar sebelum akhirnya ditemukan. Kasus-kasus ini memperlihatkan bagaimana tekanan emosional dan ekspektasi kepatuhan yang berlebihan dapat berujung pada tindakan nekad orang tua.
2. Bahaya medis yang terabaikan: Hipotermia hingga Altitude Sickness
Pakar medis dari Mount Fuji Hygiene Center, Dr. Kazue Oshiro (21/8), menegaskan bahwa perubahan cuaca di pegunungan terjadi sangat cepat dan ekstrem. Anak-anak memiliki rasio luas permukaan tubuh yang lebih besar dibandingkan dengan bobotnya, sehingga mereka jauh lebih rentan terserang hipotermia mematikan saat dibiarkan berdiam diri di udara dingin.
Tindakan anak yang rewel atau menangis di ketinggian sering kali bukan sekadar bentuk kekanakan, melainkan gejala fisik awal dari altitude sickness yang tidak terartikulasi dengan baik. Selain itu, rasa cemas akibat ditinggalkan dapat memicu anak berjalan secara tidak terkontrol untuk mencari orang tuanya, yang berisiko tinggi menyebabkan kecelakaan fatal.
Pada akhirnya, berbagai insiden penelantaran anak di medan berbahaya memberi pelajaran berharga tentang pentingnya mengutamakan keselamatan di atas ego atau ambisi pribadi. Kepolisian Jepang dan para pakar mengimbau agar para pendaki selalu menyesuaikan kecepatan serta kondisi perjalanan dengan anggota kelompok yang paling lemah.
Dengan memahami keterbatasan fisik anak dan meninggalkan pola pendisiplinan yang berisiko, masyarakat dapat mencegah terulangnya tragedi serupa di masa depan.